Terkecoh Antara Kabut Dan Polusi di Chongqing

IMG_8352-small

Mendapat kabar akan mengunjungi Chongqing – salah satu kota besar yang sedang giat membangung di Cina ini membuat saya semangat sekali. Apalagi ini kali pertamanya saya berkunjung ke daratan Cina atau Tiongkok. Seperti biasa, persiapan sebelum travel yang saya lakukan adalah : memantau cuaca di sana agar tidak salah membawa kostum. Chongqing adalah daerah yang dingin sekali, baik saat siang apalagi malam hari. Diwajibkan membawa pakaian dingin ke sini. Tidak heran jika di pagi hari kita masih bisa merasakan gelap karena berkabut.

Chongqing – yang dulunya merupakan bagian dari wilayah Sichuan, lokasinya ada di tengah-tengah wilayah daratan Cina. Wilayahnya dilalui sungai-sungai besar yang mampu dilalui kapal barang. Pembangunan di Chongqing ini konon sedang melonjak. Sebagai sebuah kota, sistem transportasi di Chongqing dikelola sedemikian rupa hingga kita mudah bepergian dengan menggunakan transportasi umum. Mulai dari bus, taksi, monorel, dan commuterline, semua terhubung dan terintegrasi dengan baik. Kemacetan memang masih ada akan tetapi sangat jarang ditemukan dan bukan karena kepadatan kendaraan.

Hal yang di luar dugaan saya adalah, bahwa di beberapa daerah yang saya kira masih gelap berkabut, ternyata kabut tersebut disebabkan oleh polusi udara. Ya.. polusi udara di Chongqing sangat parah sekali. Banyak pepohonan di tepi jalan pun nampak tertutup debu. Mirip seperti di Jogja saat pasca erupsi. Namun karena hawa dan cuaca yang sangat dingin ini maka kita tidak terlalu merasakan keberadaan kabut polusi udara tadi.

Sebagai kota yang sedang giat membangun, Chongqing mirip dengan Jakarta. Dalam sebuah pembangunan kota yang sangat canggih, kita masih bisa melihat sisi-sisi kota yang masih berantakan dan amburadul. Begitu pula dengan warganya yang bisa dikatakan belum semuanya siap dengan pembangunan kota dan perubahan gaya hidup yang moderen ini. Kebiasaan membuang sampah dan meludah masih sering terlihat tidak cuma di pasar bahkan di ruang tunggu bandara Chongqing sekali pun! Namun lepas dari itu semua, suasana kehidupan warga Chongqing sungguhlah menyenangkan, walau masih banyak sekali warga yang tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris namun mereka sangat ramah dan santun menerima kita sebagai pelancong.

Jadi jika melihat kondisi kota dan warga di Chongqing Cina, saya berfikir bahwa Jakarta masih punya kesempatan untuk membangun seperti Chongqing dengan disertai perubahan gaya hidup yang lebih bersih dan lebih baik. Semua memang kembali kepada kepedulian warga itu sendiri sih.. 🙂

(Semua foto milik @motulz, diambil dengan Canon DSLR 550D dan iPhone5)

Advertisements

Leave a Reply