Pelesir Ke Studio Komikus Belanda Penggemar Sejarah Indonesia

Pertama kali mendengar nama Peter van Dongen adalah saat saya mendapat undangan pameran komik di Stripdagen Haarlem Belanda tahun 2002. Gaya gambar Peter van Dongen yang mirip Herge (komikus Tintin) ini membuat saya langsung suka, karena saya pun membuat komik bergaya gambar Tintin. Terlebih lagi cerita yang diangkat oleh Peter mengambil latar belakang Indonesia Tempo Doeloe, makin suka!

Bersama Tim Produksi “Cinta Indonesia” (@nitatriyana @liaatma @animatorix), kami tiba di Amsterdam cukup pagi, mata masih sembab akibat begadang di pesawat, langsung naik taksi dari bandara Schipol menuju Leidseplein mencari sarapan dan wi-fi gratisan supaya bisa mengirimkan email ke Peter untuk rencana kami berkunjung ke studio rumahnya. Beres mengontak Peter, kami jalan-jalan sebentar sambil menuju penginapan. Seperti biasa, sehabis penerbangan jarak jauh, kami masih punya energi banyak di pagi hari, padahal di pesawat ngga bisa tidur. Jadi sebelum ngantuk datang sore nanti, kami langsung bergegas menuju rumah Peter yang juga studionya.

Kediaman Peter van Dongen berupa apartemen atau flat tipikal warga Amsterdam. Lokasinya asik dan cukup besar sehingga di sisi belakang digunakan Peter sebagai studio kecilnya. Di studio inilah Peter melahirkan banyak karya-karya komik dan ilustrasinya. Komik yang sangat terkenal karya Peter adalah “Rampokan Java” yang sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “Rampokan Jawa”. Gaya komiknya asik banget mirip dengan gaya komik Tintin karya Herge. Hanya saja Peter tidak mewarnainya, hal tersebut malah menjadikan komik Rampokan ini menjadi lebih terkesan jadul.

Lantas kenapa Peter mengambil latar belakang cerita komiknya dengan sejarah Indonesia tempo dulu? Ternyata Peter masih memiliki darah Indonesia, leluhurnya masih keturunan Makassar. Tidak heran jika Peter memiliki album foto milik kakek-neneknya yang berisikan foto-foto suasana di Makassar tempo doeloe. Kehidupan masa itu ternyata menjadi inspirasi tersendiri bagi Peter. Keindahan bangunan era kolonial menjadi ciri yang kuat dari tarikan garis Peter yang sangat rapih. Kekuatan gambar dan cerita komik Peter “Rampokan Java” terus berlanjut dengan munculnya komik lanjutannya berjudul “Rampokan Celebes”. Di komik Rampokan Celebes ini lah makin terasa kekuatan wawasan Peter atas suasana Makassar masa lalu (Celebes = Sulawesi).

Kini, kedua komik Peter van Dongen “Rampokan Java” dan “Rampokan Celebes” telah diterbitkan oleh Gramedia sebagai satu bundel komik dalam Bahasa Indonesia. Tentu bagi kami yang pernah datang ke studio Peter di Amsterdam wajib memiliki komik ini sebagai salah satu buku yang patut saya koleksi. Apalagi setelah saya tahu bahwa versi komik keluaran Gramedia ini ada versi glitch nya 🙂 jadi semua halaman dicetak dengan warna coklat-sepia, padahal seharusnya di bagian halaman cerita flashback dibedakan dengan dicetak warna hitam-putih. Ciri ini menjadi penanda cetakan pertama komik, jangan-jangan nanti dicetakan kedua glitch ini sudah tidak ada 🙂 Maka beruntunglah kamu yang punya komik Peter edisi cetakan pertama ini 😀

Sehabis seru-seruan di kediaman Peter van Dongen, kita lanjut mencari makan siang. Hingga akhirnya memasuki sore hari, mata kami mulai terasa kriyep-kriyep. Yak saatnya kembali ke hotel dan tidur dengan pulas. Besok pagi, siap jalan-jalan lagi mengubek-ubek kota Amsterdam!

(Foto-foto milik @motulz & @animatorix)

Advertisements

4 thoughts on “Pelesir Ke Studio Komikus Belanda Penggemar Sejarah Indonesia

Leave a Reply to motulz Cancel reply