Mampir ke Desa Bunga di Mentawai

Mentawai memang terkenal dengan “ombak surfing“-nya, wajar karena Mentawai merupakan kelompok pulau terdepan yang berhadapan langsung dengan Laut Hindia. Akan tetapi saya menemukan keindahan lain dari sekedar ombak lautnya. Apa itu?

Saya diajak oleh Bang Ade – salah satu relawan kesehatan masyarakat dari @PencerahNusa Kecamatan Sikakap Mentawai, memasuki kawasan dalam Pulau Pagai Utara. Jalannya sesekali mulus karena dibeton sisanya adalah jalan tanah yang lumayan membuat pinggul pegal karena kami boncengan dengan motor trail 125cc. Dari pelabuhan Sikakap sendiri jarak desa yang akan kita kunjungi ini hampir sekitar 45 menit perjalanan motor. Saya pun berharap perjalanan jauh dan pegal ini membuahkan penemuan lokasi yang sepadan. Ternyata betul!

Desa yang kami kunjungi ini adalah Desa Matobe, terbagi dari beberapa dusun yang kami sengaja telusuri pelan-pelan sambil menikmati suasana yang asri dan tenang. Bagaimana tidak? Saya sungguh terkagum melihat hampir semua rumah-rumah di desa ini dihiasi tanaman berbunga di pekarangannya. Sangat terasa adem dan nyaman. Lalu saya bertanya kepada salah seorang pemuda yang sedang membersihkan motornya di pekarangan, siapa yang mengawali kegemaran menanam bunga di pekarangan ini?

Ternyata, beberapa dusun di Desa Matobe ini adalah dusun ungsian. Dusun-dusun tersebut antara lain: Dusun Sarere, Dusun Bubuakat, dan Dusun Bubugra. Mereka dulunya adalah para keluarga korban gempa dan tsunami tahun 2010. Dusun-dusun ini dibangun oleh komunitas gereja dari luar negeri, salah satunya Jerman. Nah! para relawan dari luar negeri inilah yang ternyata mengajari warga ungsian untuk menanam bunga-bungaan di halaman depan rumah mereka. Bunga-bunga yang rimbun dan berwarna mampu mengurasi rasa depresi. Hasilnya sudah bisa terlihat, hampir di semua pekarangan depan rumah ditumbuhi bunga dan pekarangan pun diselimuti rumput semut yang halus dan bagus sekali. Jalan kecil kampung dengan bahan semen pun nampak seperti jalan setapak di taman-taman kota. Rumah-rumah warga dengan dinding papan pun membuat kesan desa ini makin asri, sayang atap rumahnya menggunakan seng, coba dengan daun-daun rumbia tentu akan makin keren bukan?

Tidak jauh dari situ, saya minta ke Bang Ade untuk melihat desa lama mereka yang terhantam gempa dan tsunami. Ya memang sudah luluh lantah, namun peninggalan yang tersisa hanyalah jenis tanaman yang sangat indah menurut saya. Saya pun akhirnya paham mengapa para relawan asing mengajak warga untuk mencintai tanaman dan bunga, karena memang tanaman dan bunga-bunga di kawasan ini sangat beragam, indah, dan serene sekali. Bahkan saya diajak ke sebuah jalan kecil yang menghubungkan dua dusun di mana jalanan setapak ini diselimuti tanaman lumut yang cukup tebal, jika tidak berhati-hati motor kami akan mudah tergelincir.

Setiap daerah memang punya ciri tersendiri, ada ciri yang didapat karena popularitasnya ada pula ciri yang masih tersembunyi. Saya melihat, desa “bunga” ini adalah salah satu aset wisata yang indah bagi kawasan Mentawai yang bukan pantai. Terima kasih Mentawai sudah memberikan inspirasi. Saya pikir ide menumbuhkan bunga di desa-desa ini harus ditiru dan digalakkan di banyak desa-desa di Indonesia.

Surak sabeu! (terima kasih dalam Bahasa Mentawai)

(Semua foto milik @motulz, dengan Canon 550D dan iPhone5)

 

Advertisements

3 thoughts on “Mampir ke Desa Bunga di Mentawai

  1. Pingback: Motulz | Beauty And The Beast : Berburu Bunga Dengan Mobil Gahar

Leave a Reply