Kisah Gaya Arsitektur Campur Aduk Istana Maimun Medan

“Istana Maimun !!”, ya teriakan itu cukup menjadi perbincangan seru di media sosial. Gara-gara ada sebuah kuis di TV yang mana pembawa acara memberikan pertanyaan kepada pemirsa yang sudah menelpon dan jika jawabannya benar maka si penelpon akan mendapatkan hadiah. Lha ajaibnya, pertanyaan belum dikasih si penelpon sudah menjawab dengan jawaban yang tepat yaitu: “Istana Maimun!!”. Sejak itu masyarakat yakin bahwa kuis TV tersebut hanyalah rekayasa saja. Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan di sini..

Entah benar rekayasa atau tidak, akan tetapi keberadaan Istana Maimun tidak rekasaya! dan ternyata cukup mencuri perhatian gara-gara kuis TV tadi. Bagaimana tidak, saat saya pergi melancong ke Medan bersama teman-teman untuk menonton Soundrenaline 2014, salah satu tujuan kunjungan kami adalah Istana Maimun ini. Rasa penasaran akan megah dan hebohnya istana ini karena memang menjadi obyek wisata kebanggaan masyarakat Medan.

Lokasinya masih di tengah kota, tidak sulit karena memang berada di jalan besar Brigjen Katamso. Halamannya cukup luas namun secara luas bangunan sih menurut saya kurang besar jika untuk disebut sebagai istana. Tapi bisa jadi jika dibayangkan pada masa bangunan ini berdiri, yaitu sekitar tahun 1890-an mungkin bisa dibilang ini adalah bangunan besar yang megah.

Saya sangat tertarik dengan bangunan Istana Maimun ini karena karakter arsitekturnya, properti di dalam, dan juga ornamen-ornamennya. Jika dilihat sekilas dari luar bangunan ini berkarakter melayu, atau bisa dbilang mirip-mirip dengan gaya bangunan Malaysia. Wajar karena istana ini memang istana Kesultanan Deli, jadi bukan tidak mungkin pengaruh besar kesultanan ini berimbas hingga jauh ke Malaysia. Namun jika kita makin mendekat istana, pintu masuk dan tangga mulai terlihat paduan antara bangunan Eropa dan Turki. Ornamen-ornamen yang menghiasi seluruh bangunan mengambil dari seni Islam. Yang menurut saya mirip dengan pola geometri seni arsitektur Islam di India dan Turki. Jadi kalau kita perhatikan dengan seksama, justru ornamen Islam di istana ini jauh dari nuansa Timur Tengah, namun lebih terasa nuansa Islam versi Eropa yaitu Turki dan Spanyol (Cordoba).

Hal tersebut makin dikuatkan dengan banyaknya perabotan di dalam istana yang bergaya sangat Eropa, seperti kursi dan lemari. Jika diperhatikan pada kursi yang ada di dalam istana, desainnya bukan desain ukiran khas Melayu atau Jawa, melainkan desain dengan ukiran dan desain Eropa, mungkin Belanda. Ornamen mahkota dan kepala singa makin menguatkan kesan desain Eropa. Karena menurut saya agak jarang ornamen Indonesia yang menggunakan elemen Singa, lebih banyak Harimau bukan?

Penasaran saya ini terjawab ketika saya bertanya kepada salah satu penjaga istana. Yup.. arsitek Istana Maimun ini adalah orang Eropa. Ada yang bilang berkebangsaan Itali ada juga yang bilang berkebangsaan Belanda. Ya bisa jadi keduanya berkolaborasi? Namun kesamaan dari keduanya adalah kedua arsitek ini berkebangsaan Eropa. Namun demikian, secara keseluruhan bangunan Istana Maimun ini indah sekali dan bagus untuk dijadikan konservasi referensi arsitektur.

IMG_9535-small

Sayangnya, bangunan luas ini nampak minim perawatan. Ruang bagian dalam diisi oleh para pedagang suvenir yang letaknya tidak beraturan hingga melunturkan keindahan dan kemegahan interior istana. Nampak jelas jika pengelola dan perawat Istana Maimun ini tidak paham akan nilai-nilai berharga dari detil-detil dan ornamen yang ada. Mereka nampaknya hanya berfikir jika Istana Maimun ini cukup menjadi wisata sejarah saja, padahal menurut saya ideal dan bagus sekali jika dijadikan sebagai obyek wisata seni, desain, dan arsitektur. Jadi yang datang ke sini bukan cuma peminat sejarah melainkan juga mahasiswa-mahasiswa desain, arsitek, juga pengamat seni.

Penasaran? sempatkan deh mampir ke Istana Maimun ini jika kebetulan singgah ke Medan 🙂

Advertisements

Leave a Reply