New Delhi, Kota Fotojenik

Saya tidak pernah terfikir akan mengunjungi India, sampai suatu hari saya mendapatkan email dari kantor pusat di New York, bahwa saya harus pergi ke New Delhi India untuk workshop scriptwriter bersama seorang penulis senior program TV Sesame Street. Pertama yang terfikir adalah, saya akan mengunjungi kota dengan udara yang dipenuhi bau kari.

Saya pergi awal tahun 2009 dan suhu di sana masih sangat dingin yaitu sekitar 11ΒΊC atau mirip dengan dinginnya Pegunungan Dieng di malam hari. New Delhi, sama seperti kota-kota lainnya di India adalah kota yang sangat fotojenik. Hiasan dan ornamen penuh menghiasi rumah, kendaraan umum, truk, hingga toko dan gedung. Kota yang penuh sesak dengan berbagai kegiatan dan juga tempat belanja unik dan penuh warna ini memang nampak amburadul dan berantakan. Semua sudut kota nampak dibangun dengan tumbuh apa adanya tanpa rencana. Akan tetapi, berantakan ini malah menjadikan semua pojok kota New Delhi makin eksotik untuk difoto. New Delhi memang bukan tujuan utama para pelancong. Ibukota India ini seringkali hanya dijadikan tempat singgah untuk kemudian para pelancong akan pergi ke kota lain seperti Agra, Daarjeling, dan lainnya. Lantas apa yang bisa kita nikmati dari kota pemerintahan ini?

Seperti halnya kota-kota besar atau ibukota negara, New Delhi tentu memiliki pusat-pusat perbelanjaan. Jika kita berkesempatan berkunjung ke New Delhi mungkin kita bisa merasakan suasana belanja Jakarta di era 80-an. Bangunan pertokoan di New Delhi memang tidak tergarap secara moderen. Mungkin warga New Delhi tidak peduli dengan itu. Bangunan berdesain Pasar Glodok sebelum kebakaran ini terus saja ramai dikunjungi masayarakat.

Kota ini memang pusat pemerintahan India, tidak heran jika suasana di kota ini lebih terasa kerapihan a la pemerintahan, tidak gemerlap atau hidup gempita selayaknya kota yang dihuni masyarakat funky seperti Mumbai. Jalan-jalan di New Delhi dikuasai mobil klasik, sangat jarang sekali kita melihat mobil sekelas Mercedez atau BMW dengan modifikasi kekinian. Jalan raya dikuasai oleh mobil minibus, pickup atau sedan standar, bahkan mobil kebanggaan mereka buatan lokal yaitu Ambassador yang sering kita lihat dalam film-film Bollywood. Warga New Delhi nampaknya tidak tergiur dengan kemewahan desain mobil moderen, yang akhirnya kita malah menikmati banyaknya mobil berdesain vintage berseliweran.

Tidak cuma mobil, dalam berbusana pun para pria New Delhi nampaknya tidak terlalu peduli dengan busana yang warna-warni atau bercorak. Mereka cukup berbusana gaya resmi, tidak peduli pengusaha, petugas keamanan, pedagang kaki lima, guru, pelayan toko, dan lainnya, mereka tetap tampil rapih dan perlente dengan v-neck sweater, vest, celana katun dan kemeja lengan panjang. Walau warna kemejanya sudah pudar akan tetapi mereka masih nyaman dengan kerapihannya. Mungkin ini adalah cara berpakaian peninggalan masa kolonial Inggris. Warna busana yang mereka kenakan tidak jauh dari warna-warna putih, krem, khaki, atau nuansa warna-warna tanah. Sangat mirip dengan desain produk British India.

Beda pria, beda pula cara berbusana para wanitanya. Mereka justru kebalikannya, penuh warna, corak, dan motif. Warna-warna yang digunakan dalam busana wanita di New Delhi bisa dikatakan lebih berani dengan warna-warna kontras, mungkin terinspirasi dari warna bunga-bungaan yang biasa mereka gunakan dalam upacara ritual.

Lain pertokoan lain pula gaya pedagang kios di pinggir jalan. Tidak jauh berbeda dengan yang kita temukan di Jakarta. Yang membedakan adalah kita bisa temukan warung kecil seperti kios rokok di Jakarta namun isinya adalah jualan buku-buku bekas. Dari mulai buku bacaan ringan, buku belajar komputer, hingga sastra hindus yang berseri. Warga India memang gemar membaca dan bercerita, termasuk warga New Delhi. Akhirnya kita bisa maklum mengapa industri film Bollywood bisa besar.

Membahas industri film Bollywood memang jatahnya kota Mumbai, namun untuk New Delhi kita bisa menemukan banyak sekali bioskop yang nyaris semua film yang ditayangkan adalah film Bollywood. Sangat sedikit sekali atau hampir sulit menemukan film Hollywood di New Delhi apalagi film negara asing lainnya. Belanja hiburan film di New Delhi sangatlah tinggi. Hal ini bisa nampak saat kita melihat antrian penonton di bioskop-bioskop. Seberapa antusiasnya penonton bioskop di New Delhi? Gampang, bayangkan saja jumlah penonton sinetron yang musti menonton sinetron di bioskop. Jangan kaget jika di bioskop pun ada film yang diputar berseri.

Isu tentang keberadaan sapi di India, saya temukan langsung saat saya berada di New Delhi ini. Tidak jarang saat kami pergi pagi hari jalan raya macet bukan kepadatan kendaraan melainkan ada seekor sapi yang masih bobo di tengah jalan! Pak polisi pun nampak sabar menunggu sang dewa mengawasinya dari tepi jalan. Keberadaan sapi memang bukan simbolik semata, penghargaan warga Hindu India pada hewan ini sangat dijunjung tinggi. Sekali waktu saya penasaran dengan mitos sapi suci ini yang akhirnya memaksa saya untuk datang ke resto McDonald’s di depan hotel bintang 5 – Inter-Continental New Delhi. Ternyata benar, saya melihat ada papan pemberitahuan bahwa mereka tidak menjual makanan berbahan daging sapi. Salut!

  • Pedagang di India rata-rata pandai membujuk pembeli, sangat persuasif dan percaya diri, hati-hatilah
  • Makanan di India sangat memikat, untuk kita yang memiliki perut agak rewel dan sensitif sebaiknya hati-hati, air minum juga
  • Bajaj di India memakai argo, sementara banyak taksi justru malah tawar-menawar seperti taksi gelap
  • Mobil jarang yang menggunakan kaca spion kiri, karena argumen mereka mobil di belakang yang musti waspada dengan mobil di depan, jadi mobil di depan jika mau ambil kiri tidak perlu melihat spion ke belakang, cukup menggunakan lampu sen
  • Orang India ramah-ramah, walaupun eks jajahan Inggris ternyata masih banyak juga yang tidak bisa bahasa Inggris, terutama masyarakat kelas bawah. Ada juga yang sangat fasih berbahasa Inggris yang ada mereka bicaranya sangat cepat sekali nyaris suka salah tangkap.

(Semua foto milik @motulz)

 

 

Advertisements

10 thoughts on “New Delhi, Kota Fotojenik

  1. New Delhi Kayaknya keren yah. Masih pure, apa adanya dan menjunjung tinggi kepercayaan mereka, gak terkena banyak efek negara2 maju. Nambah satu pengetahuan dari baca ini. Nice and thanks’s.

Leave a Reply to indahs Cancel reply