Jangan Menunda Berkunjung Ke Pantai Marunda

Jangan ditunda-tunda lagi, sebelum keasrian pantai Marunda ini berubah menjadi ramai oleh warga yang baru pindah ke rumah susun Marunda. Rusun Marunda kian ramai oleh penghuni baru, cepat atau lambat akan banyak pembangunan di sekitar rusun. Siapa yang jamin jika pantai ini akan tetap sunyi dan nyaman dikunjungi?

Ya, Pantai Marunda memang sudah lama dikenal sebagai salah satu pantai yang penuh dengan aktifitas nelayan yang melaut ke Teluk Jakarta, juga terkenal dengan situs sebuah rumah yang konon merupakan kediaman jagoan Betawi, yaitu Si Pitung. Namun nama Marunda mendadak ramai kembali ketika Pemprov DKI dengan serius menggarap ulang beberapa  blok rumah susun yang sudah bertahun-tahun terbengkalai. Rumah Susun ini berlokasi tepat di tepi Pantai Marunda, maka disebut dengan nama Rusun Marunda.

Saya sengaja mengunjugi Rumah Susun Marunda ini karena penasaran dengan pemberitaan yang gencar mengulas kondisinya yang kembali hidup dan menjadi sebuah komplek hunian yang lebih nyaman. Beberapa halaman kosong yang berada di sekitar blok rusun mulai ramai ditanami pohon buah-buahan yang kelak tumbuh besar dan bisa dipanen oleh warga. Warga rusun Marunda mulai bisa merasakan kenyamanan hidup dan tinggal di sini karena seluruh infrastruktur rusun dirombak oleh Pemprov dan sistem pembayaran sewa administrasi pun kini berjalan dengan pengelolaan yang lebih baik.

Selain kondisi rumah susunnya, yang justru menarik perhatian saya adalah situasi di sekitar rusun. Lokasi rusun Marunda tepat berada di tepi Laut Jakarta dan sebuah kanal perbatasan antara Provinsi DKI Jakarta dengan Jawa Barat. Jika sisi kiri DKI Jakarta berbatasan dengan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, maka lokasi rusun Marunda ini berada di sisi kanan DKI Jakarta. Pantai di sini tidak bersih, warna lautnya mirip dengan Pantai Ancol. Pasirnya tidak putih namun tidak kelabu seperti Ancol, artinya berada di Pantai Marunda lebih nyaman. Karena jauh dari hiruk-pikuk kota, maka pantai ini sangat tentram sekali. Suara angin dan ombak begitu terdengar indah di antara keheningan suasana sekitar. Sesekali terdengar suara anak-anak mengaji dari speaker mesijd di kejauhan, samar-samar berpadu melengkapi irama suara debur ombak yang membuatnya semakin syahdu.

Jika kita datang ke komplek rusun ini, maka dengan mudah kita bisa mencari tempat parkir. Karena rusun ini memiliki halaman teras yang luas. Tanya saja ke warga rusun dimana kita bisa berkunjung ke pantai nanti kita akan ditunjukkan jalan masuk menuju pantai melalui sebuah jalan kecil di pagar tembok rusun. Lewat jalan ini, saya pun terkejut dan mendadak nyaman karena disambut dengan hamparan rumput alang-alang yang tumbuh liar di rawa-rawa. Suara ilalang ini sungguh indah dan nyaman sekali. Mobil kami berhenti dan saya minta mesin dimatikan, membiarkan dominasi suara siang itu dikuasai oleh irama alam, yaitu irama desiran ombak, irama bisikan angin, dan irama gemerisik ilalang yang lambat laun mengajak mata untuk terpejam. Indah sekali…

Menuju rusun Marunda sebetulnya tidak sulit, cukup masuk ke jalan tol Cakung Cilingcing, hingga dipenghujung jalan tol kita akan dibawa keluar ke arah Marunda. Yang musti kita hadapi adalah segerombolan truk-truk kontainer yang besar-besar, berjalan lambat, dan seringkali mengintimidasi kita saat mobil kita berada tepat di tengah kerumunan truk trailer. Buat kamu-kamu pemburu pantai, sempatkan main ke Pantai Marunda deh 🙂

Spot : Rusun Marunda

Advertisements

Leave a Reply