Dimas: Phnom Penh, I Feel It ‘Lucky’, But Call It ‘Fate’

Bulan lalu, Maret saya mengunggah sebuah foto di Instagram tanpa ada niat mengikuti ajang event apapun,  tiba-tiba foto tersebut didaulat menjadi pemenang foto #GoAheadMoment “Street Art” yang diadakan oleh Sampoerna A bersama Motzter.com dan hadiahnya adalah jalan-jalan kreatif ke Phnom Penh Cambodia. Rasanya tidak percaya, seperti ‘just because you can’t see the air, doesn’t mean you stop breathing and just because you can’t see God, doesn’t mean you stop believing’  bahagia saya saat mendengar kabar itu, ya rasanya seperti mendapat keajaiban. Dapat diibaratkan seperti para fans Metallica Indonesia yang mendengar kabar bahwa band kesayangannya akan segera menggelar konser di GBK. Seakan rasa tidak sabar untuk segera berangkat bergejolak di setiap harinya.

Foto yang saya posting di Instagram

Foto yang saya posting di Instagram

Tanggal keberangkatan ditetapkan pada hari Jumat, 27 Maret 2015. Saya segera mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan yang tampaknya akan sangat menyenangkan ini. Saya berangkat tidak sendiri, namun bersama kak Motulz (@motulz) dari Motzter.com dan kak Eva (@nevanov) sebagai pemenang lain selain saya yang sudah tiba terlebih dahulu tiba di bandara Soekarno Hatta sore itu. Kami menggunakan maskapai penerbangan Air Asia, perjalanan ke Phnom Pehn dengan jadwal keberangkatan di sore hari mengharuskan kami transit di Kuala Lumpur Malaysia terlebih dahulu, kemudian keesokan harinya kembali melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh pada pagi hari. Sesampainya di terminal KLIA 2 bandara Kuala Lumpur, kami segera mencari tempat untuk beristirahat, namun ternyata semua kamar hotel di bandara tersebut sudah penuh dan terpaksa kami harus menghabiskan malam di beberapa bangku panjang yang ada di terminal bandara yang baru di resmikan pada tanggal 9 Mei 2014 itu. Well, this was not my lucky day..

Keesokan harinya pagi-pagi sekali kami sudah harus memasuki pesawat yang akan membawa kami ke Phnom Penh. Kabut tipis menyelimuti langit Phnom Penh pagi itu, tapi tidak menghalangi keindahan pemandangan kota yang dapat terlihat dari pesawat tipe Airbus A320 yang kami tumpangi. Pemandangan kota Phnom Penh dari atas lebih terlihat seperti Jakarta tahun 70an, kota yang keren dengan nuansa ‘vintage’ pikirku saat itu. Dari kabar yang saya dengar dari kak Motulz, Negara Kamboja memang sedang dalam proses pembangunan dalam beberapa tahun terakhir dan benar saja, sesaat setelah pesawat mendarat kita langsung dapat melihat sedang adanya proses rekonstruksi di beberapa bagian bandara.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi di bagian imigrasi, kami langsung keluar bandara dan mencari taksi. Betapa terkejutnya saya ketika melihat kondisi taksi yang akan kami tumpangi ternyata adalah mobil keluaran terbaru dengan transmisi otomatis dan velg yang sudah dimodifikasi. Dalam perjalanan menuju hotel, ternyata mobil-mobil yang berlalu lalang di antara bangunan-bangunan tua dan berdebu di kota Phnom Penh pagi itu rata-rata mobil keluaran terbaru, hanya memang masih banyak sepeda motor tua yang mendominasi padatnya jalanan kota yang tampak semrawut lalu lintasnya.

Kami tiba di Phnom Penh pada hari jumat, kak Motulz mengajak saya untuk melaksanakan ibadah sholat jumat. Bermodalkan informasi dari teman lama kak motulz yang tinggal di Phnom Penh, kamipun disarankan untuk menemui Kang Firdaus dan Kang Kasmin, orang Indonesia pemilik rumah makan “Warung Bali” yang sudah 15 tahun lebih tinggal di Phnom Penh. Tidak hanya disambut dengan sangat ramah kami juga diajak berangkat bersama ke masjid yang ternyata baru diresmikan tepat pada hari itu oleh pemerintah Cambodia. (Again) Lucky me!

Salah satu hal yang sangat berkesan dalam perjalanan #GoAheadMoment kali ini adalah saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan kewajiban sholat Jumat dan mendengarkan khotbah dalam bahasa Khmer di satu-satunya masjid terbesar dan megah di Cambodia yang mayoritas penduduknya menganut agama Budha. Lagi-lagi saya merasa sangat bersyukur.

Seusai sholat jumat, saya berkenalan dengan beberapa orang Indonesia yang menetap di Phnom Penh karena alasan pekerjaan.  Salah satunya adalah Hendar, yang malam itu mengajak kami berkeliling kota dan makan malam di restaurant Tonlebassac yang menyajikan menu-menu makanan unik khas Khmer.

Makanan unik khas Khmer

Makanan unik khas Khmer

Keesokan harinya giliran kak Ipang, teman lama kak Motulz yang mengajak kami mengelilingi kota dengan Tuktuk. Yang membuat Phnom Penh berbeda dari kota-kota di Asia Tenggara lainnya adalah disini kita tidak akan menemukan daerah “China Town” seperti yang biasa kita temui di Singapore atau Malaysia. Bangunan disini kebanyakan terpengaruh nuansa khas bangunan-bangunan Prancis. Salah satunya terlihat di Central Market dengan bentuk kubah melengkung pada bagian atap bangunan tersebut. Mungkin karena memang Cambodia adalah bekas jajahan Prancis dulunya. Pada siang hari cuaca di Phnom Penh sangat panas, tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah disana. Sore harinya kami diajak menyusuri sungai Mekong sambil menikmati pemandangan sunset dari atas perahu yang memaparkan keindahan pemandangan warna khas langit senja yang rasanya tak ingin saya biarkan cepat berlalu begitu saja. Benar-benar indah.

Karena ini malam terakhir kami di Kamboja, maka pilihan makan malam yang tepat adalah dengan menu khas Phnom Penh di Khmer Surin Restaurant. Dari obrolan malam itu dengan kak Ipang yang memang bekerja di bidang yang berkaitan dengan kreatifitas anak muda Phnom Penh, dapat disimpulkan bahwa kota ini memang sedang berkembang pesat dibidang artsy-nya . Dapat dilihat dari mulai terbitnya bermacam-macam majalah remaja, salah satunya adalah Sabay Magazine yang bisa kita dapatkan secara gratis di outlet-outlet tertentu. Dan yang paling membuat saya penasaran adalah walaupun sudah banyak galeri dan toko seni yang dapat kita temui dengan mudah di kota ini, tetapi saya sangat jarang sekali toko-toko yang menjual vinyl atau cd music, membuat saya bertanya-tanya apakah masyarakat kamboja mungkin lebih suka menonton tv daripada mendengarkan musik melalui cd atau piringan hitam?

Melihat keindahan sunset dari sungai Mekong

Melihat keindahan sunset dari sungai Mekong

Terlepas dari itu semua, saya sadar bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya merasa begitu bersyukur dapat berkunjung ke Phnom Penh. Masyarkat Phnom Penh sangat ramah kepada para turis dan pendatang asing yang menetap di negara tersebut. Selain itu, hampir seluruh masyarakat Phnom Penh sangat fasih dalam berbahasa Inggris, bahkan pedagang kaki lima yang kami temui di pinggir jalan tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan kami. Jadi jika kalian mempunyai rencana liburan ke tempat yang kaya akan seni, budaya dan arsitektur khas Prancis, Phnom Penh wajib masuk dalam daftar rencana Negara yang kalian kunjungi.

Ditulis oleh Dimas (@bunkdimaz)

Advertisements

Leave a Reply