Menikmati Mesin Waktu di Pabrik Mie Lethek Bantul

Mengapa mesin waktu? ya karena dengan berada di pabrik mie ini saya serasa kembali ke jaman baheula di mana warga bahu-membahu membuat mie yang warnanya bukan kuning melainkan putih butek. Di mana pabrik ini berada?

Dari Jogja kami menemupuh jarak sekitar 25 km ke arah selatan menuju Desa Srandakan Bantul. Lokasi pabrik ini tidak di pinggir jalan melainkan harus blusukan masuk kampung dan menerobos jalan sempit. Cara mudah adalah bertanya kepada warga dan kami langsung dipandu dengan sepeda onthel.

Mie lethek – adalah mie yang mirip bihun dengan warna putih kotor, buthek, atau broken white dalam nama cat. Konsumen mie lethek sudah meluas tidak hanya di Jogja. Jumlah pesanan pun bisa berlimpah dan tak sanggup dikerjakan pabrik ini dalam kapasitas yang besar. Mengapa demikian? karena pabrik mie lethek di Bantul ini tetap memilih proses pembuatannya yang tradisional.

Salah satu pabrik mie lethek tradisional ini adalah pabrik Mie Lethek Garuda. Mereka sengaja menggunakan sapi jantan untuk alat pengolah adonan bahan mie. Kehidupan para pekerja dan sapi pun seolah sudah akrab. Sepanjang bekerja sesekali mereka mengajak bicara atau becanda. Tidak heran jika mereka pun paham ketika si sapi berdiam tidak mau bergerak agak lama itu pertanda ia akan pipis. Maka salah satu dari pekerja akan membawakan ember sebagai ganti pispot si sapi.

Para pekerja di sini mayoritas sudah tua, anak-anak muda di desa ini nampaknya tidak tertarik melanjutkan pekerjaan orang tua mereka sebagai buruh pembuat mie, mereka lebih memilih bekerja di kota. Akibatnya, pemandangan yang terlihat sangatlah eksotik, para pekerja tua renta namun masih dengan gagah bekerja hingga berpeluh. Mereka bekerja bergantian siang dan malam. Walau demikian kuota mie yang dihasilkan tetap tidak bisa memenuhi pesanan.

Bagi saya, cara tradisional ini secara tidak langsung malah melestarikan gaya hidup pembuatan mie tradisional. Dari cerita konsumen, cita rasa mie lethek olahan tradisional ini lebih lezat dan gurih rasanya. Terlepas dari misi heritage dari pekerjaan pembuat mie ini ternyata secara ekonomi pun sukses bertahan dan bersaing dengan kualitas mie buatan pabrikan. Pabrik mie lethek ini jelas bukan tempat wisata, namun bagi saya keberadaan dan aktivitas yang otentik ini jelas merupakan bentuk tradisi yang layak dilihat. Suasana otentik dan barang-barang perabotan yang klasik inilah yang membuat suasana di pabrik ini serasa kembali ke masa lampau dengan mesin waktu.

(Semua foto milik @motulz)

Advertisements

One thought on “Menikmati Mesin Waktu di Pabrik Mie Lethek Bantul

Leave a Reply