Keteledoran Yang Membawa Kenangan Di Agra India

Dengan banyaknya berita pemerkosaan turis di India ternyata membuat banyak teman saya mengurungkan niatnya berpetualang ke negeri eksotik itu.
Berlibur ke India memang terkesan menyeramkan apalagi dengan banyaknya pemberitaan yang menyeramkan yang dialami banyak pelancong.
Tapi setidaknya saya tidak mengalami kisah buruk seperti itu saat saya berkunjung ke India tahun 2009 dulu.

Suatu hari, saya dan tim penulis Sesame Street – baik yang dari Jakarta maupun dari New York, berlibur menuju Agra India untuk melihat kemegahan Taj Mahal. Kami tinggal di sebuah hotel yang cukup bagus. Menurut pemandu tur kami – Umesh, berkunjung ke Taj Mahal itu harus sejak matahari terbit, karena pantulan cahaya matahari ke dinding marmer mesjid akan memberikan kesan warna yang indah sekali. Jadilah kami semua sepakat untuk bersiap packing sejak malam. Karena besok pagi-pagi sekali kita pergi ke Taj Mahal sekalian check-out untuk kemudian kembali ke New Delhi tempat di mana kami workshop.

Singkat kata, setelah kita sepagian berkeliling Taj Mahal dan puas sekali, kami langsung pulang ke New Delhi sekalian mampir di jalan mencari makan sambil melihat beberapa tempat kerajinan ukir marmer. Para pengrajin ukir marmer ini jadi semacam ikon di Agra, konon mereka masih keturunan langsung para pengrajin dan penghias dinding Taj Mahal. Setiap marmer dilubangi dengan bentuk motif, lalu motif tersebut diwarna dengan menggunakan batuan kecil yang diasah membentuk desain pola. Lalu batu kecil tadi dimasukkan ke dalam marmer. Jadilah sebuah hiasan pola yang indah sekali.

Setelah itu kita mengunjungi tempat penjualan suvenir, pashmina, dan karpet atau permadani khas India. Kami semua serombongan nampak sangat menikmati tempat tersebut karena berniat membelikan oleh-oleh.


Tiba-tiba Umesh menghampiri kami yang sedang melihat-lihat, lalu bertanya: “Siapa di antara kalian yang bernama Motulz?” – Yup itu saya! Lalu Umesh dengan wajah senyum mengajak saya keluar, dia bilang ada sesuatu yang cocok sekali untuk saya, tentu saya tertarik. Sementara teman-teman saya yang lain ingin ikut tapi dilarang oleh Umesh, katanya ini khusus untuk saya.. ah ini pasti seru! Di luar, di depan toko Umesh bertanya, apa dompet saya masih ada? Saya jawab ada – sambil mengecek saku belakang celana jeans, untuk meyakinkan diri saya.

“Yakin ada? atau dompet lain?” Tanya Umesh lagi
“Ya.. ini dompet saya Umesh. Kenapa?” Jawab saya santai sambil bertanya-tanya
“OK, paspor kamu mana?” Umesh bertanya lebih detil

Saya terdiam, kuping saya terasa panas, seolah menyadari kalau saya baru saja membuat kesalahan super fatal dan Umesh membaca sekali air muka saya itu

“Hehe.. santai teman, mari..” Umesh merangkul saya sambil membawa saya keluar toko. Sementara muka dan gestur saya sudah sangat gugup.
Di luar sudah ada sebuah mobil mewah buatan Jepang dengan supir yang nampaknya sudah siap menanti kehadiran kami berdua. Saya masih gelagapan dan berusaha memohon maaf ke Umesh atas keteledoran saya meninggalkan paspor di brangkas kamar hotel. Umesh sekali lagi hanya tersenyum yang mencoba menenangkan saya lagi. Karena perjalanan kami lumayan jauh – sekitar jarak antara Cawang ke Ratu Plaza, maka saya cerita ke Umesh alasan saya kenapa terbiasa menyimpan paspor ke dalam brangkas hotel saat travel ke luar negeri, saya bilang ke Umesh kalau saya pernah ditipu dan kecurian saat berada di Amsterdam Belanda.

Pengalaman itu membawa saya kepada seorang detektif polisi Belanda yang menyarankan untuk menyimpan paspor asli di hotel dan cukup
membawa fotokopi-nya saja di dalam tas. Hal tersebut menghindari jika tas kita hilang maka urusan identitas tetap aman. Makanya saat semalam saya packing untuk check-out pagi-pagi sekali, saya teledor tidak ingat bahwa paspor saya masih saya simpan di dalam brangkas kamar. Stupid!
Tidak lama, kami tiba di hotel tempat kemarin kami menginap. Kami langsung menuju lobi hotel dan sudah ditunggu oleh seorang manajer hotel. Dengan wajah senyum saya berlari kecil dengan wajah meminta maaf atas keteledoran yang merepotkan banyak orang ini. Si manajer santai sekali lalu menyambut jabatan tangan saya dengan kedua tangannya sambil bilang “welcome back.. it’s nice to see you again”, OK saya tahu kalimat itu merupakan sapaan wajib semua pegawai hotel, maka saya jawab lagi dengan permintaan maaf saya – untuk kesekian kalinya lagi. Lalu si manajer hotel memanggil salah satu anak buahnya, seorang pemuda yang badannya tidak terlalu besar berkulit hitam berlari kecil menghampiri sambil memberikan dompet panjang saya. Astaga.. dompet ini! – pikirku dalam hati atas perbuatan stupid ini.

Yup, isinya paspor, uang dollar, dan beberapa kartu kredit, semua lengkap. Dompet panjang ini memang tidak pernah saya simpan di saku celana. Dompet ini
memang saya simpan di tas ransel. Pak Manajer hotel menyerahkan dompet saya sambil meminta saya mengecek isi dompet tersebut. Sejujurnya saya cukup mengintip keberadaan paspor dan kartu kredit saja, karena itu yang penting, sementara uang dollar saya sudah tidak peduli. Di kepala saya, uang itu mustinya sudah lenyap sebagai ongkos atas keteledoran saya. Nyatanya uang itu masih ada, saya ambil selembar US$ 100, lalu saya bertanya ke manajer hotel, siapa yang menemukan ini? Saya mau menitipkan uang ini ke beliau. Ternyata pemuda berbadan kecil tadi. Sialnya saya lupa namanya. Dia menolak uang saya.

Saya memaksa si petugas cleaning service tadi untuk menerima uang saya, tapi dia tetap menolak. Saya curiga ia ragu mungkin karena ada manajernya di sebelah kami. Lalu saya pikir musti izin dulu ke boss pemuda tadi kan?

“Maaf pak, apa boleh saya memberikan uang ini untuk dia sebagai ucapan terima kasih saya? Maaf jika salah, tapi di negara kami ucapan terima kasih seperti ini biasa” Bujuk saya

“Oh Please.. anda bebas berhubungan langsung dengan dia, tapi jika dia keberatan, saya pun tidak bisa memaksa” Jawab Manajer hotel dengan ramah sekali.

Tiba-tiba si pemuda cleaning service itu melanjutkan ucapan sang manajer hotel dengan wajah sumringah dan sangat ramah sekali

“Maaf sir, saya sungguh senang sekali dengan pemberian uangnya, tapi saya akan lebih senang jika bapak cukup sampaikan saja salam kami dari Agra kepada teman-teman bapak di Indonesia” ujarnya sambil tersenyum

“Kami di Agra, akan senang sekali jika rekan-rekan bapak bisa datang berlibur ke kota kami.. Silakan datang ke Agra kembali” lanjut pemuda tadi dengan wajah sumringah

Asli saya lemas mendengarkannya. Saya jabat tangan pemuda itu dan saya berjanji akan menceritakan kisah kebaikan ini kepada teman-teman saya di Indonesia. Mereka semua tersenyum tulus lalu mengantarkan kami kembali ke mobil pinjaman tadi. Dalam perjalanan saya mengucapkan berkali-kali rasa terima kasih saya kepada semuanya, saya bilang terima kasih sekali lagi ke Umesh dan supir yang mengantarkan kami. Setibanya kembali di toko, saya turun mobil sambil berjanji ke Umesh: saya akan ceritakan kisah kebaikan ini kepada teman-teman saya di Indonesia. Umesh tersenyum dan bilang: “Please.. sukria”

Sukria India!

(Semua foto milik @motulz)

 

Advertisements

10 thoughts on “Keteledoran Yang Membawa Kenangan Di Agra India

  1. wah, India! tahun kemaren 2 kali batalin rencana trip ke India gara2 beberapa kasus pemerkosaan. mungkin kapan2 aku ke sana kalo udah lebih pede. sekarang india masih disimpan rapi di bucket list 😀

    nice blog, kang! suka caramu bercerita.

  2. Abis baca turis di kuta lombok, baca ini. Terharu.. Masih banyak orang baik yg gak suka tipu-tipu orang asing. :’) Nice story.

  3. Cerita dan cara bercerita yg menarik…Taj Mahal dan budaya Farsi mmg luar biasa indah…untung dpt org yg jujur ya mas…model simpan surat di brangkas jg saya praktekkan..hasilnya ketinggalan Ktp!…

  4. Wah, kebalikannya dgn saya, malah punya pengalaman mengerikan dan bikin deg-degan di Agra, India…. tapi nggak bikin kapok sih, tetep lanjut jalan2 sampai ke Pushkar dll 🙂

Leave a Reply to wira Cancel reply