Terpukau Dengan Museum Komik Belgia

Sebagai seorang yang pernah membuat dan gemar membaca komik, wajib hukumnya datang ke tempat-tempat yang memiliki nilai referensi yang berkaitan dengan komik. Tentunya selain toko buku, pameran, dan galeri. Tempat apa itu?

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah membuat dan menerbitkan komik, yaitu Kapten Bandung. Saat itu, saya masih kuliah di Bandung akhir tahun 1990-an. Gambar komik saya bergaya komik Tintin buatan Herge. Saya menyukainya karena garisnya bersih, warnanya hangat, dan gambar manusianya tidak distorsi seperti kartun. Gaya yang terus melekat hingga kini, termasuk jadi inspirasi sketching saya belakangan ini.

DSC00099 1-small

Pada akhir tahun 2015, seorang teman, Sheila – mendapat undangan mengisi materi di acara besar Frankfurt Book Fair di Jerman. Sheila yang juga penggemar komik “gaya Eropa” ini kontan mengajak saya untuk travel sketching ke Eropa dalam rangka melakukan “kunjungan spiritual” ke toko-toko komik di beberapa negara Eropa termasuk ke museum komik di Brussel, Belgia.

Setelah direstui dan mendapatkan dukungan anggaran penuh dari Johari Zein (JNE), kami berdua berangkat ke beberapa negara dan kota di Eropa. Salah satu destinasi utama dari creative trip ini adalah Belgian Comic Strip Center atau Comics Art Museum di Brussel. Bagi kami yang tergila-gila dengan komik Eropa, wajib rasanya mengunjungi museum ini sebagai sebuah perjalanan pembangkit semangat. Kami pun menyebut kunjungan ini sebagai sebuah perjalanan “spiritual komik”.

Museum komik dan “art nouveau”

Memasuki museum komik yang lokasinya berada strategis di pusat kota Brussel sungguh sebuah pengalaman menakjubkan, tidak hanya untuk mereka yang gandrung dengan komik. Para pengunjung tentu menikmati suasana yang penuh warna dan gambar komik.

Melihat dari bagian depannya, bangunan museum ini memang tidak terlihat megah seperti umumnya sebuah museum. Ternyata, bangunan ini dulunya sebuah pertokoan megah bergaya art nouveau, atau lebih umum disebut seni dekorasi arsitektural di abad ke-19. Gaya ini seolah merayakan sebuah seni mendekorasi struktur besi dan kaca pada bangunan.

Bangunan pada masa itu dibuat dengan struktur besi yang sengaja ditonjolkan. Lalu dipasang begitu banyak kaca sehingga ruangan menjadi begitu terang sinar matahari. Saat memasuki museum, kita bisa langsung terpana dengan bentuk desain tangga yang meliuk-liuk, konstruksi metal yang begitu cantik, bahkan sampai detail sekrup dan pengikat struktur bajanya pun dibuat begitu indah.

Kota Brussel memang sangat terkenal dengan konservasi gaya arsitektur art nouveau. Dari mulai bangunan, halte bus, tiang lampu, bahkan sampai tempat sampahnya pun didesain dengan ornamen art nouveau. Tidak heran, jika desain bangunan dari museum komik ini pun juga dibuat dengan gaya art nouveau hasil rancangan arsitektur kenamaan Victor Horta. Seketika saya dan Sheila seperti berkunjung kembali ke era film The Great Gatsby.

Berawal dari pemerintah kota Brussel membeli gudang pertokoan ini dari pemiliknya yaitu Charles Waucquez setelah tutup tahun 1970. Sepuluh tahun kemudian, pemerintah kota mulai berpikir untuk membangun sebuah museum komik. Pada tahun-tahun itu, komik buatan Belgia mulai digandrungi seantero Eropa sebelum akhirnya mendunia. Pada tahun 1980, pencipta komik Tintin, Herge dipanggil oleh pemerintah kota dan ditugasi untuk mengawasi proyek pembangunan museum komik ini. Lalu tahun 1984 bergabunglah Bob De Moor, komikus terkemuka Belgia yang bertanggung jawab merancang keseluruhan desain museum. Setelah 5 tahun pembangunan, pada 3 Oktober 1989 dibukalah museum ini dengan nama the Belgian Comic Strip Center. Harapannya, selain melestarikan komik-komik Belgia, museum ini menjadi tempat restorasi keberadaan ornamen-ornamen bergaya art nouveau di Brussel.

Di dalam museum, selain sejarah komik dan komikus, kita bisa melihat bagaimana proses pembuatan komik bergaya Eropa. Ini sungguh di luar bayangan kami. Proses pensil, tinta, dan warnanya sungguh rumit dan memakan waktu. Bayangkan, pada zaman itu, proses ini dibuat tanpa menggunakan komputer. Jika terjadi kesalahan, akan sangat sulit sekali merevisinya.

Dari pembuatan komik yang masih manual hingga proses modern dengan komputer, disajikan dengan sangat informatif dan mudah dipahami. Di sudut lain, ada banyak penjelasan dari kategori-kategori komik. Di sini, kita akan dapat pencerahan bagaimana sebuah komik di Belgia atau Eropa, tidak melulu dibuat untuk pembaca anak-anak. Tidak sedikit pula komik-komik yang dibuat untuk pembaca dewasa, tidak hanya ilustrasinya yang vulgar, tetapi juga alur cerita dan temanya pun sangat rumit untuk dipahami pembaca anak-anak.

Di dalam gedung ini, tidak hanya museum yang bisa kita kunjungi, tetapi ada pula kafe, ruang pameran, dan toko suvenir yang penuh barang-barang dan atribut dari tokoh-tokoh komik Eropa. Pengunjung yang tidak hanya penggila komik berbondong-bondong masuk toko suvenir dan menemukan oleh-oleh yang sangat indah dan menarik.

Komik Eropa

Suatu saat saya pernah bercakap-cakap dengan seorang komikus dari Amsterdam bernama Peter van Dongen. Saat itu, sebagai sesama komikus, saya menanyakan hal sepele kepadanya, yaitu apakah bisa menafkahi hidup dari sekadar membuat komik? Peter menjawab, “Tergantung apakah komik Anda sudah diterbitkan di Belgia atau belum?” Ternyata, mimpi tertinggi mayoritas komikus di Eropa adalah ketika komik mereka berhasil terbit di Perancis atau Belgia. Kedua negara ini memang menjadi pusat episentrum komik Eropa yang mampu melemparnya ke pasaran dunia. Jika Anda komikus Belanda dan komik Anda belum diterbitkan oleh salah satu penerbit dari Perancis atau Belgia, Anda belum termasuk komikus selebritas Eropa.

Sebagai ibu kota Belgia, Brussel tampaknya menyadari kebesarannya sebagai pusat komik Eropa. Menyusuri kota Brussel tidak lepas dari pandangan kita akan kultur komik. Tidak hanya museum dan toko komik yang berukuran besar dan kecil, tetapi juga patung atau elemen kota berbentuk tokoh-tokoh komik pun dibangun khusus oleh pemerintah kota. Coretan-coretan di dinding bangunan juga bergaya komik dan sangat indah. Nama Herge dengan Tintin-nya, hingga Asterix, dan banyak lagi komikus, mengisi sudut-sudut kota Brussel. Sebegitu besarnya peranan komik bagi Brussel dan negara Belgia ini.

***

Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Kompas, rubrik Kompas Klass 26 Januari 2016 – (Semua foto milik @motulz)

Advertisements

2 thoughts on “Terpukau Dengan Museum Komik Belgia

Leave a Reply