Kamu Traveler Tipe Apa? Getting There atau Being There?

Ada yang bilang traveler itu harusnya pakai uang sendiri bukan dibayarin atau disponsori. Ada juga yang bilang traveling itu bisa dengan uang seadanya, yang penting sampai di tempat tujuan, tidur dan makan bisa seadanya. Ada yang tidak setuju dengan itu, nah bagaimana meurut kamu?

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Singapore Airshow diajak oleh Garuda Indonesia – @IndonesiaGaruda bareng Mbak Vesta – @swankytraveler, Ican  – @icaaaaaaan , dan Kak Alex – @aMrazing.  Saat santai ngopi sore kami ngobrol ngalor-ngidul tentang tempat-tempat keren yang layak disinggahi, tentang fasilitas akomodasi, kenyamanan selama penerbangan, juga akses penerbangan menuju tempat tersebut. Dari obrolan itu saya mencoba menangkap dan merangkum hasil obrolan santai yang menurut saya materinya bagus berkaitan dengan pertanyaan di awal tulisan ini untuk saya share di blog.

Saya pernah menonton sebuah video documentary tentang traveling, saya lupa di mana dan apa judulnya namun ada satu kalimat yang cukup membuat saya tersadarkan tentang apa sih sebetulnya traveling itu? Di situ ada seorang wanita bilang bahwa purpose atau niat dasar dari traveling itu ada dua.. getting there dan being there. Apa bedanya?

  1. Getting there; atau “sampai di sana”. Tipe ini merupakan misi paling mendasar dari sebuah traveling yaitu bagaimana kita bisa sampai di sana. Jaman sekarang ada banyak sekali pelancong (traveler) yang memiliki hasrat traveling yang penting cukup sampai saja. Mulai dari cari tiket murah, akomodasi dan konsumsi semurah-murahnya yang penting bisa (cukup) menginjakkan kakinya di sebuah lokasi, tempat, kota, atau negara saja. Gak masalah apakah itu cuma menginap semalam, singgah sebentar, atau bahkan sekedar transit. Misinya adalah mengkoleksi sebanyak-banyaknya titik-titik lokasi / tempat wisata / kota / negara, tidak peduli berapa lama atau sudah melihat apa saja di sana.
  2. Being there; atau “berada di sana”. Tipe pelancong yang ini lebih kepada, apa yang dilakukan saat berada di sana? Tipe pelancong being there, kebanyakan sudah tidak lagi berfikir bagaimana saya bisa pergi atau sampai di sebuah tempat. Tidak lagi pusing dengan harga tiket, penginapan, atau adaptasi dengan warga lokal di sana. Mereka biasanya menikmati hal-hal yang berkaitan dengan cara hidup, perilaku, dan aktivitas lokal dari tempat yang ia kunjungi. Tipe pelancong seperti ini tidak berarti harus pelancong kelas berduit saja, tidak sedikit mereka yang bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskan ia bepergian ke sana-sini. Di saat rekan pegawai lain cukup pergi ke lokasi kerja lalu balik ke hotel namun bagi pegawai yang doyan traveling tentu kesempatan bepergian ini dimanfaatkan sebagai wisata budaya dan mengintip aktivitas warga lokal

Nah.. dari kedua jenis itu apakah jenis yang satu menjadi lebih baik dari yang satunya? Tidak.. misalnya pelancong tipe getting there, tidak sedikit pelancong jenis ini melakukan perjuangan yang tidak mudah justru sebelum keberangkatan. Persiapan mereka tentu akan maksimal, mulai dari cara memperoleh budget, mengurus ini itu, menjaga fisik, dan masih banyak lagi. Proses di lokasi pun menjadi cerita tersendiri, bagaimana berburu makanan murah, penginapan murah, berkenalan dengan orang lokal, menumpang tidur di warga lokal, dan seterusnya. Semua itu tentu memiliki “cara” yang tentu saja bukan sekedar ada uang atau tidak melainkan kemampuan bersosialisasi.

Krawang, bukan lokasi destinasi pilihan banyak traveler walau banyak yang unik untuk diceritakan secara budaya dan gaya hidup

Sementara pelancong tipe being there, seringkali lebih medalam kepada aktivitas kehidupan atau budaya warga lokal. Misalnya mengikuti cara berpakaian, cara memilih makanan dan minuman, bahkan ikut curious dalam cara beribadat atau kegiatan ritual warga lokal. Mereka bisa melakukan hal-hal tersebut karena mereka punya cukup waktu. Mereka menginap paling tidak over the weekend, 3 hari 2 malam dan itu pun bisa jadi bukan kunjungannya yang kali pertama melainkan sudah yang ke beberapa kali. Tidak sedikit saya mendengar teman saya berkunjung ke Jepang berkali-kali hanya demi ingin menghadiri sebuah event budaya atau musim bunga Sakura misalnya. Namun jika ditanya ke pelancong yang getting there, buat apa pergi ke tempat yang sudah pernah disinggahinya? mereka lebih pilih untuk pergi ke tempat yang sama sekali belum pernah disinggahinya. Ya.. wajar karena misi mereka berbeda dengan misi pelancong jenis being there. Pendaki gunung atau penakluk puncak tertinggi itu adalah contoh lainnya. Misinya sederhana, yaitu cukup mencapai puncak. Bisa jadi tidak bermalam, cukup istirahat sekian jam lalu turun gunung. Namun proses menuju puncaknya itu yang menjadi perjuangan, pengalaman, dan kisah berharga untuk diceritakan. Apakah jika kamu punya uang banyak lalu bisa dengan mudah sewa helikopter dan terbang menuju puncak Everest?

Dari kedua tipe barusan, sudah pasti ada tipe yang menggabungkan keduanya yaitu tipe pelancong yang selain getting there mereka pun harus being there. Bagi saya mereka itu masuk kelas ultimate traveler. Ia sudah tidak lagi berfikir bagaimana cara bisa sampai di sana dan juga sudah tidak sekedar tiba di sebuah tempat hanya untuk makan di resto beken atau belanja fancy souvenirs. Biasanya mereka sudah jauh mencoba berbaur dengan masyarakatnya, sudah bertukar pikiran, tetap berhubungan saat kembali ke negara atau kotanya, atau bahkan melakukan pertukaran informasi budaya dan gaya hidup masing-masing. Pelancong jenis ini biasanya detil dan cermat dalam mencari informasi dan latar belakang kota atau negara yang disinggahinya. Misalnya dengan mempelajari sejarah kotanya, musimnya, informasi tentang kebiasaan masyarakatnya, dan seterusnya. Yang mana bukan tidak mungkin semua ini dilakukan dengan cara mengumpulkan uang atau menganggarkan gajinya. Jadi ia sadar betul bahwa uang yang dihabiskan untuk berpelancong ini adalah demi mengisi kualitas dirinya atas referensi dari tempat-tempat dan orang-orang yang ia temui selama bepergian.

Apa pun tipe pelancong yang klop dengan kamu, tetap sadari bahwa dengan bepergian kamu akan mendapatkan banyak manfaat, pengalaman, dan cerita. Asalkan selama bepergian itu kamu harus tetap sadar (aware) bahwa traveling itu bukan sekedar melengos. Selamat melancong!

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Kamu Traveler Tipe Apa? Getting There atau Being There?

  1. semua orang berhak memilih cara berjalanannya masing-masing, tapi pejalan yang bertanggung jawab adalah pejalan yang tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, namun juga untuk lingkungan dan masyarakat sekitar.

Leave a Reply