Merasakan Gempa di Taipei, Antara Cemas Bercampur Kagum

Pasti sudah banyak yang tahu bahwa Taiwan adalah salah satu negara yang sering dilanda gempa, selain Jepang dan Hong Kong. Saking seringnya dilanda gempa maka warga Taiwan tidak kehabisan akal untuk menyiasati dampaknya dengan teknologi. Seperti apa kecanggihan yang dibuat mereka atas bencana alam rutin ini?

Berada di Taipei tentu saja merupakan keasikan tersendiri bagi saya, mengingat sudah lama sekali saya ingin melihat sebuah maha karya arsitektur yang sangat megah yaitu menara Taipei 101, yaitu salah satu menara tertinggi di dunia yang sigap menghadapi getaran gempa rutin di Taipei. Kehadiran saya di Taipei adalah untuk menghadiri sebuah acara peluncuran beberapa produk laptop milik Dell Computer, yang lokasi acaranya persis di seberang menara Taipei 101 ini.

Tanpa banyak berfikir panjang saya langsung plesir naik ke atas menara dengan menggunakan lift (elevator) yang konon kabarnya adalah tercepat menurut Guinness Book of Records. Yang mana di dalam lift pun kita akan merasakan pengalaman bagaimana “take off” secara vertikal menuju ke lantai 89 hanya dalam waktu 36 detik atau kira-kira sama dengan 1km/menit.

Lantai 89 ini adalah lantai “Taipei 101 Observatory” di mana di sini dijelaskan banyak hal teknis tentang pembuatan dan konsep menara Taipei 101. Pengunjung pun dapat menikmati pemandangan kota Taipei dari ketinggian 386 m di atas permukaan laut ini. Menara Taipei 101 ini pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 2004 dengan ketinggian 509 m melampaui Petronas Tower di Kuala Lumpur. Namun pada tahun 2009 Taipei 101 dilibas ketinggiannya oleh Burj Kalifa di Dubai.

Salah satu yang membuat saya penasaran dengan menara ini adalah cara mereka menyiasati guncangan gempa yang kerap terjadi di Taipei ini. Teknologi yang digunakan dapat dilihat oleh pengunjung di lantai 88. Jadi dari lantai 89 tadi kita tinggal turun tangga dan masuklah kita ke sebuah plaza yang di tengahnya terdapat sebuah bola raksasa yang beratnya hampir 600 ton lebih. Bola besi ini digantung dengan 4 kabel baja raksasa dan ditopang 4 kaki hidrolik. Idenya adalah bahwa saat Taipei dilanda gempa masa lantai dasar bangunan akan bergerak ke kiri dan ke kanan. Maka untuk mengantisipasi gerakan tersebut dipasanglah “pemberat” atau “bandul” yang mampu menyelaraskan gerakan permukaan tanah tadi dengan bagian puncak menara. Jadi gerakan bandul ini ke kiri ke kanan juga berlawanan dengan arah geseran permukaan tanah yang diakibatkan oleh gempa tadi.

Setelah beberapa jam saya menikmati lantai atas menara akhirnya saya turun karena saya pun penasaran dan ingin mengunjungi peluncuran laptop Dell Computer tadi. Tak di sangka.. sesampainya saya di bawah, tiba-tiba saya merasakan semacam limbung. Saat itu saya kaget dan yakin bahwa “ah ini pasti gempa!”. Betul saja, dengan reflek saya mencari lampu yang tergantung di sekitar saya dan lampu-lampu gantung itu begoyang-goyang. Saya masih terdiam sambil gamang, sementara beberapa pegawai di sekitar saya cuma diam seolah biasa aja sambil tetap asik dengan ponselnya, lalu saat gempa berhenti mereka jalan lagi aja gitu :)))

Takjub… bagaimana tidak? Baru saja sesaat saya turun dari sebuah lantai yang “pamer” dengan teknologi antisipasi gempanya lalu tidak sampai 20 menit saya mengalami gempa di tempat yang sama! Sungguh pengalaman yang seru namun mencemaskan bukan? 😀

Singkat kata.. Taipei sangat keren! mustinya jika ada kesempatan saya ingin sekali bisa kembali ke sana 🙂 doakan yaks!

Taipei 101 – Foto: @motulz

 

Advertisements

Leave a Reply