Wisata Kultur Etnik di Kampung Arab Al Munawar Palembang

Akulturasi budaya di kawasan ini sungguh nyata, ada melayu, cina, dan arab. Semua berpadu dalam sebuah kawasan yang cukup tua berada di Palembang. Di manakah kawasan itu?

Namanya Kampung Arab, dinamai demikian karena awalnya di sinilah para pedagang-pedagang arab bermukim. Konon katanya keberadaan para keluarga pedagang arab ini paling tidak sudah ada hampir 300 tahun. Mereka memiliki tanah yang luas lalu dijadikan pemukiman bagi keluarga dan sanak saudaranya. Tidak heran jika akhirnya masing-masing kawasan ini memiliki nama yang diambil dari nama fam/marga keluarga para pedagang arab tadi.

Salah satu marga keluarga arab tersebut adalah Al Munawar, nama marga yang dijadikan nama salah satu kawasan di Kampung Arab. Beruntung sekali saya mendapatkan kesempatan untuk singgah ke kampung ini karena kebetulan saya mendapat undangan dari Ibu Irene Camelyn – Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan untuk menghadiri acara malam pembukaan Festival Sriwijaya XXV 2016 di tepian Sungai Musi.

Siang itu rombongan kami baru saja kembali dari Pulau Kemaro yang berada di tengah Sungai Musi untuk melihat Klenteng dan Pagoda tempat sembahyang masyarakat Cina di Palembang. Dalam perjalanan pulangnya kami menyempatkan diri untuk mampir ke Kampung Arab Al Munawar. Seru sekali karena kami datang lewat jalur sungai, tambah serunya lagi ternyata siang itu permukaan air sungai Musi sedang surut jadi kami semua harus pindah dari perahu besar ke perahu yang lebih kecil, yaitu perahu yang dapat merapat ke tepian sungai dalam keadaan dangkal.

Kami langsung disambut oleh Pak Dulloh (Abdullah), warga situ yang juga masih famili Al Munawar. Dari informasi Pak Dulloh, di Kampung Arab Al Munawar ini ternyata sedang ada hajatan kawinan (haul), jadi makin semaraklah suasana di kampung tersebut. Ada banyak sekali rombongan undangan yang hadir, semua berbusana putih-putih. Tentu saja momen menarik ini tidak dilewatkan begitu saja, kamera foto dan video kami seketika sigap mengambil banyak momen-momen yang khas.

Sebelum bergegas kami berkesempatan makan siang di Pesantren Ar Riyadh, yaitu pesantren yang dibangun tahun 70-an oleh orang tua dari salah satu ustadz kondang yaitu ustadz Ahmad Al Habsyi. Sajian makanannya adalah Nasi Minyak berikut daging kambingnya yang begitu lezat. Di sinilah nampak sekali harmonisasi akulturasi budaya, masakan arab bersanding dengan makanan cina namun disajikan dengan gaya melayu. Semua keragaman disajikan dalam perbedaan namun dinikmati dalam kesamaan selera. Indah sekali..

Tidaklah heran dalam perjalanan pulang kami dengan perahu, cukup membuat kami terkantuk-kantuk, selain karena perut kami yang kenyang, angin sepoi-sepoi Sungai Musi seakan membelai menina-bobokan. Namun sesekali kami pun terbangun akibat cipratan air sungai, yang mana ada yang bilang bahwa jika sudah pernah terciprat air Sungai Musi biasanya akan rindu untuk kembali ke Palembang. Semoga saja.. karena rasanya masih banyak tempat menarik yang layak dikunjungi di Palembang apalagi di Sumatera Selatan. Bagaimana dengan kalian?

Advertisements

Leave a Reply