Air Terjun Bantimurung : Obat Anti Murung

Perjalanan menuju lokasi ini cukup melelahkan dan menggelisahkan, karena di saat bersamaan ada pembangunan infrastruktur jalan dari Kota Makassar ke Maros. Butuh waktu 2 jam menempuh perjalanan yang hanya berjarak 20 km dengan bus. Bikin murung deh..

Sesampainya di kaki gunung Bulusaraung, rombongan kami semacam mendapatkan energi baru saat mendengar dari kejauhan suara gemuruh. Kami yakin itu suara air terjunnya. Ternyata arti lain Bantimurung dalam bahasa lokal Makassar juga memiliki makna “banting murung” atau memecahkan kegelapan / kegelisahan. Arti sebenarnya adalah benti : air / tetesan air, lalu murung artinya bergemuruh.

Air terjun Bantimurung ini memang menarik karena bentuk dan konturnya bukan sekedar air yang jatuh dari atas ke bawah. Kontur air terjun ini berbentuk tahapan-tahapan. Yang menarik bagi saya adalah penyajian dramaturgi (tahapan emosi) dari air terjun ini seolah sengaja disajikan oleh alam untuk para pengunjung yang masuk. Dari jalan masuk kita hanya disajikan dengan aliran sungai yang tenang, lalu kolam yang berisi para pengunjung yang berendam tenang. Kemudian makin ke tengah tensi dramatiknya naik karena di sana mulai terlihat kali yang curam meluncurkan para pengunjung yang bermain di atas ban.

Dramatisasi buatan alam ini makin terasa mendebarkan saat kita makin mendekat ke air terjun. Suara bergemuruh seolah makin menggema akibat dinding tebing di kiri-kanan air terjun. Sesekali juga terdengar suara ketawa dan jeritan kebahagiaan pengunjung yang makin atraktif bemain seluncur dengan ban akibat arus deras yang dihempaskan air terjun. Dalam sebuah alur dramaturgi seolah titik ini adalah klimaks dari pertunjukan, ternyata tidak.

Saya mulai menaiki tangga di tepi tebing air terjun, lumayan curam namun tidak melelahkan. Tangga ini membawa kita ke sisi atas air terjun, Kita bisa melihat atraksi air yang begitu deras dari tampak atas. Bergerak liar menabrak dan pecah akibat kontur dan bentuk batu-batu besar yang meliuk-liuk. Suara gemuruh air makin terasa menggemparkan. Mirip dengan suara mesin pesawat jet saat akan tinggal landas.

Sesampainya saya di atas air terjun, suasana mendadak tenang.. kemudian hening. Aliran air sungai lebih senyap, pengunjung pun nampak makin sedikit. Mungkin karena para pengunjung lokal lebih menikmati keriuhan di bawah air terjun, bukan di atas. Sementara para teman-teman blogger asean yang datang bersama saya lebih penasaran dengan suasana di atas air terjun.

Makin kita berjalan menjauhi air terjun suasana makin hening. Mulai nampak beberapa kupu-kupu berterbangan di sekitar sungai. Lumut yang tebal, pepohonan yang besar, seolah menjadi bagian penting dalam melengkapi keheningan tepian sungai ini. Saya berjalan cukup jauh, hingga ketenangan tadi berubah menjadi suasana senyap yang misterius. Pepohonan yang besar makin menutupi cahaya yang masuk. Yang tiba-tiba babak drama misterius ini makin kentara saat saya mulai melihat ada sebuah makam. Tidak jauh dari situ ada gua, cukup sempit dan gelap hingga kita butuh senter jika ingin masuk lebih dalam. Sebuah klimaks yang cukup menegangkan bukan? Saya pikir cukup.. lalu saya kembali ke lokasi awal tempat kami berkumpul.

Tidak lama, beberapa teman blogger dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura datang. Mereka bercerita bahwa perjalanan mereka dari titik gua tadi masih terus berlanjut, cukup jauh dan minim akses. Namun sajian alamnya makin menakjubkan juga, yaitu sebuah danau yang diciptakan oleh sumber mata air yang kemudian hanyut menuju air terjun tadi. Di sanalah mereka menemukan semacam klimaks dari sebuah adegan panjang dari awal masuk Bantimurung hingga ke akhir sumber mata airnya. Dahsyat! sungguh beruntung mereka 🙂

Jika teman-teman berkesempatan datang ke air terjun Bantimurung ini, silakan challenge diri kalian, sejauh mana kalian bisa menyusuri sungai ini. Saya yakin sepanjangan penyusuran ini akan menghasilkan cerita-cerita yang menarik 🙂

Advertisements

Leave a Reply