Shooting Mencekam Di Pulau Samosir

“Permisi.. permisi.. ” adalah sebuah mantra standar buat orang Indonesia saat baru masuk ke sebuah daerah yang dirasa asing dan terasa “ada penunggunya”. Kali ini saya harus mengucapkan cukup serius ketika sejak di Prapat dan tepi Danau Toba, hampir semua pemandu kami mengingatkannya terus-menerus. Bukannya saya makin ingat, yang ada malah makin skeri..

Tahun 2008 – kalau tidak salah, saya dan beberapa teman diajak shooting di Pulau Samosir. Sebuah pulau yang sumpah indah banget terletak di tengah Danau Toba Sumatera Utara. Karena berada di dataran tinggi, lokasi ini cukup dingin saat malam hari dan sejuk saat siang hari. Suasana di hampir wilayah sepi sunyi, tidak ada suara radio warga yang memutar lagu dangdut, tidak ada suara sirene abang-abang penjual es-krim, danΒ  juga tidak ada suara adzan. Maaf! bukan bermaksud lain tapi maklum saja karena sepertinya tidak ada mesjid saat itu, entah hari ini. Kesunyian yang sangat damai, juga membuat terasa mencekam di beberapa tempat.

Kami akan shooting di sebuah bukit. Bukitnya sangat bagus sekali. Kontur Pulau Samosir ini adalah bebukitan yang dipenuhi padang rumput dan pohon-pohon pinus di sekelilingnya. Sebelum suting seorang pemandu kami bertanya apa betul ingin suting di sini? saya bilang iya. Ada masalah? Si pemandu – sebut saja Ucok, bilang ke saya untuk “permisi.. permisi” dulu sebelum mulai suting. Nah lho.. ada apa ya?

Ucok bilang bahwa bukit ini adalah semacam makam besar, makam satu keluarga yang meninggal karena kecelakaan. Duh! Ada-ada aja! Padahal lokasi ini bagus sekali dan ideal sekali. Kenapa? Karena saya mendapat view ke danau, view padang rumput, dan view tebing yang ada air terjunnya. Ucok bilang, ya silakan saja tapi jangan lupa “minta izin” dulu ke penunggunya. OK saya percaya saja dan saya mengucapkan “permisi.. permisi.. saya ingin suting, mohon jangan janggu kami, makasih ya”.

Harry, teman dan kameraman saya ketawa cekikikan. Dia mencela saya karena percaya yang begituan. Katanya, hari gini, udah shooting pake kamera HD format raw data masih percaya sama hal-hal begituan. Sial! Tapi ah sudahlah.. gak ada ruginya juga.

Tapi apa yang terjadi? Baru saja kita baru mau mulai take-1, dalam hitungan sekitar 10 detik, kamera kami mati tiba-tiba, blas! Saya dan Harry saling bertatapan. Wajah saya tegang, wajah hari juga tegang… sebentar lalu cengengesan lagi. Saya bilang, tolong jangan becanda ah.. situasi sudah ga asik. Harry cek batere, ternyata habis. Digantilah dengan batere pack yang masih full (di cek di lampu indikator). OK siap.. kamera ON, action! … sepuluh detik kemudian.. blas! mati lagi. Ketika kita cek batere indikator, HABIS! nol ! lampunya warna merah.

Ya ampun! batere yang asalnya penuh bisa langsung drop habis hanya dalam hitungan sepuluh detik? Ini semacam ada hantu penyedot energi?? Kali ini wajah saya makin serius dan makin ga bisa becanda. Saya dekati Harry sambil berbisik: “Coy, kali ini lu harus permisi.. permisi, plis.. batere cadangan kita tinggal satu nih”. Seperti yang saya duga, Harry tetap cengengesan tapi dia bilang kalau dia akan permisi.. permisi.. dalam hati.

OK.. batere terakhir, kami berdua cek indikator lagi. Yup.. full! Warna lampu indikatornya hijau. Siap ON, action!…. blas! Mati lagi.

Ini si Harry dasar bedegong pasti tadi dia ngebohong! Dia pasti ngga bilang permisi.. permisi.. Kesal rasanya karena satu take pun belum diambil! Sementara klien sudah bertanya-tanya, kenapa belum mulai? Mati gua! Akhirnya saya tanya ke pemandu kami si Ucok, apakah di hotel punya genset? ya generator. Dia bilang ada, saya minta dibawakan ke lokasi sekarang juga. Sambil saya duduk di samping Harry si pengacao yang mulai datar mukanya karena dia sadar bahwa ketiga batere pack nya itu jebol, alias tidak bisa di re-charge dan tidak bisa dipakai lagi. Kita berdua hanya menduga-duga, sambil rasanya tidak yakin kalau kejadian ini terjadi karena hal-hal gaib.

Mobil yang membawa genset datang, kita berdua menghampiri melihat kempauan genset kecil ini, yang biasa hanya dipakai untuk penerangan saat mati listrik. Tiba-tiba saya mulai merasakan mendung, sambil melihat ke arah langit.. dan ternyata.. damn!! Jangan-jangan itu penyebabnya! Saya mencolek Harry dan menunjuk ke atas, hamparan kabel listrik tegangan tinggi atau sutet. Kami berdua lihat-lihatan, kayaknya ini lah biang masalah tadi. Lalu saat hujan reda, kami menggeser posisi kamera kami tidak persis di bawah kabel listrik, tapi agak jauh. Lensa kamera kami ganti dengan tele, jadi talent tetap di bawah kabel, sementara kamera jauh dari kabel. Kamera ON, yup.. kita bisa shooting!

Apakah benar karena kabel listrik tegangan tinggi, atau bukan? karena batere, atau genset? Entahlah, yang terpenting saya tetap menghormati semua yang ada di lokasi, termasuk si Harry yang akhirnya ikut menghormati juga. Bukan berarti jikapun ada alasan logis dibalik jebolnya batere lantas membuat kita tidak meletakkan rasa hormat kita kepada warga atau penunggu lokal? Sebagai seorang traveler, saya pikir itu tidak bijaksana πŸ™‚

(Semua foto milik @motulz)

 

Advertisements

4 thoughts on “Shooting Mencekam Di Pulau Samosir

  1. Setauku mah (berdasarkan pengalaman tinggal di Kepri sekian tahun total sekian belas tahun), di daerah seperti itu memang masih kuat hal-hal seperti itu. Dulu waktu masih tinggal di Pulau Singkep diajarin begitu, kemudian ketika kerja di Pulau Bintan pun diajarin hal yang sama. Intinya, pamit/minta ijinlah kepada “penguasa” di sana dan ngga boleh songong walau cuma dalam hati.

    Ngomong-ngomong, foto-fotonya keren-keren euy!

    • Iyaa bener πŸ˜€ masih banyak daerah di Indonesia yang punya local wisdom spt itu, ya kita mah ikutin aja πŸ˜€
      Tengkyu tengkyu πŸ™‚

Leave a Reply