Banda Neira, Miniatur Eropa di Kepulauan Banda

Bagaimana tidak takjub saat melihat ada sebuah istana yang mirip istana Bogor berada di tepi pantai menghadap laut dengan pemandangan gunung api di seberangnya? Ya, bangunan itu ada di Banda Neira dan masyarakat di sana menyebutnya Istana Mini karena memang mirip Istana Bogor hanya lebih kecil.

Sudah banyak cerita tentang Pulau Banda Neira ini, sejak lama saya sudah mengindam-idamkan ingin singgah ke pulau terpencil yang jaraknya dari Ambon hampir 200km lebih. Penasaran dengan bagaimana sebuah pulau yang terpencil di tengah Laut Banda bisa begitu maju pada masanya.

Istana Mini Banda Neira

Semua berawal dari Ambon, penerbangan Jakarta ke Ambon ada banyak sekali pilihan. Kebetulan saya pergi bersama rombongan sketcher yang sudah lama juga memimpikan sketching di Kota Ambon dan Banda Neira. Kami berangkat dengan kloter terpisah menggunakan Citilink – karena nyaman dan harganya yang ramah. Dari Ambon kami menuju pelabuhan Tulehu – sebuah desa yang melahirkan banyak sekali pemain sepakbola tingkat nasional. Perjalanan dari Tulehu ke Banda Neira pun ada dua pilihan, naik kapal Pelni dan kapal cepat. Kami memilih kapal cepat karena… ya lebih cepat aja. Sebagai perbandingan, jika naik kapal Pelni hanya 150 ribu untuk perjalanan 14 jam, jika naik kapal cepat ongkosnya 450 ribu dengan lama perjalanan kurang lebih 6 jam.

Alam Banda Neira

Banda Neira adalah salah satu pulau dari 11 pulau di Kepulauan Banda. Kawasan ini memiliki pemandangan alam laut, pantai, juga gunung yang sangat menakjubkan. Ada yang bilang jika sebetulnya pulau-pulau ini adalah gunung api yang menyembul ke permukaan laut – mirip Krakatau. Makanya perairan di sekitar Kepulauan Banda ini masuk kategori laut dalam. Tak heran kami bertemu banyak diver dan free diver di Kota Banda Neira. Akibat gunung api ini maka tanah di sini subur sekali. Tumpahan lava ke laut juga menghasilkan kesuburan terumbu karang di perairan Laut Banda. Saking suburnya, maka pertumbuhan terumbu karang yang umumnya butuh waktu hampir 60 tahun di sini cukup 20 tahun saja.

Selain tanah yang subur itu, karakter alam dan tanahnya pun khas. Karena itulah maka kawasan di sini menjadi tempat bertumbuhnya rempah-rempah yang khas dengan kualitas kelas dunia. Karena alasan itu pula lah maka pada tahun 1500-an segerombolan pedagang-pedagang Eropa datang beramai-ramai ke kawasan Kepulauan Banda ini dan Banda Neira menjadi pusat kota dan pusat perdagangannya. Jadi wajar saja jika akhirnya pulau yang seupil di tengah laut sendirian tiba-tiba menjadi pusat kota.

Kota Banda Neira

Pembangunan kota tidak sekedar membangun bangunan saja, Banda Neira sudah jauh lebih maju dari sekedar mendirikan bangunan. Kota ini ditata sedemikian rupa oleh bangsa kolonial Eropa sebagai kota elit perdagangan. Bayangkan saja pulau yang terletak antah-berantah jauh dari pulau-pulau besar di kawasan Maluku, bisa tiba-tiba ada banyak bangunan dengan bahan material batu dan marmer yang jelas bahan-bahan tersebut tidak ada di pulau situ. Semua material bangunan a la kota ini memang sengaja dibawa oleh bangsa Eropa dengan kapal-kapal besar. Semua material batu dan besi diangkut dari Eropa oleh kapal dagang yang difungsikan juga sebagai ballast kapal (penyeimbang), saat kapal kembali ke Eropa maka semua material tadi digantikan dengan ber ton-ton rempah-rempah sebagai ballast kapal.

Yang membuat saya takjub adalah, semua yang saya ceritakan tentang sejarah pembangunan kota tadi sampai hari ini masih ada dan masih bisa kita lihat langsung di kawasan Banda Neira ini. Gereja tua pun masih digunakan, klenteng, bahkan bangunan Socialite Harmonie yang digunakan sebagai tempat pesta dan dansa oleh para kaum pedagang kaya Eropa. Belum lagi benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis, yang kemudian digunakan oleh Belanda pun masih berdiri dan bisa kita kunjungi. Begitu pun dengan bangunan rumah-rumahnya atau residen sungguh bukan tipikal rumah yang berada di pulau kecil tapi sungguh sebagai bangunan rumah di perkotaan saja. Pilar-pilar dengan atap tinggi menjadi ciri khas nya, juga halaman belakang. Rumah-rumah para penggede Eropa berada agak di atas (upper) sementara lokasi dagang dan pegadang Cina berada di bawah (lower) dekat dermaga yang kita kenal sebagai kawasan Pecinan. Yang paling unik adalah bagaiman jalan-jalan di kota Banda Neira ini dibangun dan ditata dalam pola grid (block) kotak-kotak mirip penataan kota di Eropa dan New York.

New York dan Banda

Tapi New York kan di Amerika? Ya betul.. hanya saja New York adalah kota bergaya Eropa yang berada di kawasan Amerika. Karena memang dulunya kota ini dimiliki Belanda, maka New York dulu disebut New Amsterdam.

Lantas kenapa bangsa Belanda tidak lagi menguasai New York? Nah ini bagian cerita yang paling menarik, jadi seiring dengan tingginya perdagangan rempah-rempah terutama Pala (nutmeg) di dunia, maka Belanda ingin menguasai seluruh perkebunan Pala di kawasan Kepulauan Banda. Sayangnya ada pulau-pulau yang menjadi perkebunan Pala itu dimiliki oleh pihak Inggris salah satunya adalah Pulau Rhun.

Bersamaan dengan itu di kawasan Amerika sana sedang berkecamuk perang antara Belanda dengan Inggris. Inggris ingin merebut New York dari tangan Belanda. Perang terus berkecamuk hingga akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk duduk bersama menyudahi peperangan. Maka sepakatlah kedua negara menyudahi perang dengan saling menukar kepemilikan dari pulau-pulau mereka (seenaknya banget ya? hahaha..). Belanda menyerahkan Manhattan New York ke Inggris dan Inggris menyerahkan Pulau Rhun ke pihak Belanda. perjanjian kesepakatan ini terjadi tahun 1667 persis 350 tahun lalu. Kesepatakan ini dikenal dengan nama Treaty of Breda.

Jalan-jalan ke Banda Neira sungguh semacam “traveling back in time” karena kita masih dengan mudahnya merasakan suasana kota tahun 1800-an ini. Di pinggir-pinggir jalan kita masih dengan mudahnya melihat tembok jadul bahkan meriam Belanda yang tergeletak begitu saja di tepi jalan pasar.

Banda Neira sudah menjadi kota yang terbuka dengan wisatawan, kemajuan masyarakat dan kehidupan sosialnya kini sudah menjadi pelengkap sebagai destinasi wisata kelas dunia. Tidak sedikit perahu-perahu layar (yatch) asing merapat di pantai Banda Neira. Begitu pula kapal laut besar dan kecil berlabuh silih berganti. Sayangnya akses penerbangan yang masih koma. Banda Neira punya landasan pesawat. Hanya saja bandara dengan runway pendek ini belum terpakai sepenuhnya maksimal masih satu maskapai dengen pesawat kecil saja, itu pun dengan jadwal penerbangan seperti Bajaj, yaitu hanya pilot dan Tuhan yang tahu – begitulah joke warga Banda Neira.


Disajikan atas dukungan:

Advertisements

Leave a Reply