Bertemu Turis Finland Yang Terlantar Di Tanjung Aan Lombok

Judulnya memang terlalu provokatif sih, bagai media berita politik saja. Tapi ini kejadian nyata saat saya berlibur ke Tanjung Aan Lombok. Saya memang suka Lombok sejak pandangan pantai pertama. Saya berkenalan dengan wilayah Lombok pertama kali adalah Senggigi. Ya, menurut saya Senggigi kurang lebih sama dengan suasana Kuta Bali. Tapi ternyata ada Kuta lain selain di Bali, yaitu Kuta Lombok.

Usai diajak workshop bersama UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan), saya memperpanjang stay saya di Lombok, tapi bukan di Senggigi melainkan pindah ke Kuta Lombok. Pantai di Kuta Lombok jauh lebih sepi, nyaris sedikit sekali pelancong lokal yang memilih tempat ini, alasannya sederhana yaitu terlalu sepi. Saya setuju, karena menjelang Magrib di Kuta Lombok semua tempat mendadak sepi. Lampu jalan minim dan gelap sekali. Tapi kesunyian ini memiliki keuntungan tersendiri, yaitu saya bisa menikmati suasana pantai yang bagus dan tidak banyak orang berseliweran saat di foto.

Berbeda dengan turis asing, mereka nampaknya suka dengan pantai sepi dan asli. Namun kendala dan masalah bagi mereka ya ada saja, apalagi turis asing yang berasal dari Finlandia yang pengucapan Bahasa Inggris-nya mungkin membuat pemandu lokal pun jadi lost in translation.

Jadi hari itu, saya memilih Tanjung Aan untuk saya kunjungi dengan menggunakan mobil dan supir sewaan. Sebelum ke Tanjung Aan, saya minta supir untuk muter-muter dulu melihat pantai-pantai yang ada di sekitar Kuta. Memang sejak pertama kalinya saya ke Lombok, saya menikmati jenis pantainya yang cenderung bebatuan yang dipenuhi padang rumput. Kontur ini memberikan kesan seperti di dataran pantai Wales, UK. Apalagi saat gerimis, makin seru deh.

Setelah saya foto-foto di Tanjung Aan, saya kembali ke mobil. Pak Supir sudah menunggu. Baru saja saya masuk dan mesin mobil dinyalakan, dari kejauhan saya melihat 2 wanita berambut pirang melambai-lambaikan tangannya ke arah kami berdua. Saya gak mau ge-er dulu toh? Saya mengerenyitkan pandangan ke mereka, lalu melihat ke arah belakang mobil. Jangan-jangan mereka sedang melambaikan ke arah lain. Kedua wanita berambut pirang itu makin mendekat ke arah kami dan saya yakin mereka melambaikan tangannya ke saya… waduh!

Saya turun dari mobil, lalu salah satu perempuan tadi agak tersenyum menyapa sambil terengah-engah. Kalimat pertamanya: “Hi.. how are you.. please help us”.

Waks! Ada apa ini? Lalu saya berusaha menenangkan kedua perempuan asing ini yang nampak di latar belakang ada 1 wanita dan 2 pria yang menyusul mereka sambil berjalan, nampaknya mereka sudah kelelahan. Lantas saya tanya ada apa? kenapa? Wanita itu bilang kalau mereka baru saja ditipu oleh seorang supir mobil sewaan. Mereka menyewa mobil lalu diantarkan ke Tanjung Aan, setelah mereka lihat-lihat dan kembali ke parkiran, mobil dan supirnya sudah tidak ada. Mereka panik karena mereka sudah lama sekali berada di pantai sepi yang tidak ada tukang jualan pula. Kayak film Gilligan’s Island aja ya 😀

Lalu tanpa pikir panjang, saya persilakan semua orang asing ini masuk mobil, kami berkenalan satu dengan yang lain. Saya tidak ingat nama-nama mereka, bukan karena saya pikun, tapi penyebutan nama mereka mirip kayak penyebutan tokoh dan nama-nama dalam komik Asterik, karena mereka orang Finland. Di dalam mobil akhirnya kami berbincang-bincang santai. Mereka menyebutkan nama hotel dan saya meminta supir saya untuk antar turis-turis kelaparan ini kembali ke hotelnya terlebih dulu. Mereka nampak lega dan senang sekali bisa mendapatkan kendaraan pulang.

IMG01576-20111221-1629

Kejadian ini sempat saya twit, tapi banyak yang tidak percaya kalau saya tidak lampirkan foto sebagai bukti. Terpaksa saya izin ke mereka untuk saya foto. Mereka malah gembira dan ketawa-ketawa saat saya foto dengan ponsel. Kamipun berpisah di halaman depan hotel mereka lalu saya kembali ke hotel saya. Lantas, bagaimana dengan kasus supir mobil sewaan yang kabur tadi? Seperti yang saya duga, ternyata hanya kesalahpahaman saja. Karena keterbatasan dan kekusutan bahasa. Saat tawar-menawar harga, si supir setuju dengan harga tawaran turis – tapi hanya untuk sekali jalan. Sementara turis merasa tawarannya diterima untuk 2 kali jalan (pulang-pergi). Yah begitulah suka duka menjadi turis di daerah yang penduduknya masih gagap berkomunikasi dengan bahasa asing. Semoga turis-turis Finland bisa paham situasi itu setelah saya ceritakan duduk masalah sebenarnya.

Ayo.. jalan-jalan ke pantai Lombok!

(Semua foto milik @motulz)

Advertisements

One thought on “Bertemu Turis Finland Yang Terlantar Di Tanjung Aan Lombok

  1. hahahaha, kesian mereka..
    etapi, pas saya ke lombok (ngeteng ceritanya) sempet beberapa kali di wanti2 sama ibu2 orang sana (kebetulan ketemu di kapal feri) supaya agak waspada di lombok, soalnya sering banyak kejadian wisatawan yg ditipu. Nah pas mo nyebrang ke Gili jg sempet liat bule yang nangis2 karena ditipu sama guide nya sih.

Leave a Reply