Bukit Yang Indah Ini, Ternyata Adalah Galeri Seni di New Zealand

Galeri seni – menjadi tempat yang kita kenal selalu memiliki ciri khas yang unik dan eksentrik. Bentuk bangunannya seringkali dibuat begitu artistik mengingat isi dari tempat tersebut adalah koleksi karya-karya seni dan tempat berkumpulnya para seniman dan masyarakat artistik. Kali ini saya berkunjung ke sebuah galeri yang super-unik di Auckland, New Zealand.

Galeri unik yang saya kunjungi ini bentuknya bukan sebuah bangunan atau gedung seperti umumnya kebanyakan galeri. Melainkan hamparan bukit-bukit di tepi pantai. Lokasinya memang bukan di kawasan Kota Auckland melainkan di salah satu pulau di kepulauan milik Kota Auckland, namanya Waiheke Island atau Pulau Waiheke.

Saya harus naik kapal ferry dari Auckland Ferry Terminal menuju Pulau Waiheke yang jaraknya kurang lebih 20km-an saja. Saya naik kapal cepat canggih yang bisa bermanuver lincah sekali. Terlebih saat kapal tiba di dermaga Waiheke, ia bisa belak-belok, maju-mundur dan berhenti, begitu cekatan layaknya mobil yang sedang parkir, entah kapal cepat itu menggunakan mesin dan teknologi apa. Dari Ferry Terminal Waiheke saya dijemput taksi menuju “bukit galeri seni”. Jaraknya dari dermaga ke tempat galeri ini cukup jauh yaitu sekitar 16km mirip dari Monas ke Ragunan. Karena dermaga Waiheke tadi adanya di sisi Barat Pulau Waiheke sementara lokasi galeri ini ada di ujung sisi Timur nama lokasinya adalah Connells Bay. Nama inilah yang dijadikan nama galeri ini – Connells Bay Sculpture Park. Ya.. saya pikir ini lebih cocok disebut “park” ketimbang “gallery“, karena lokasinya memang di alam terbuka atau outdoor bagaikan sebuah taman.

Setelah perjalanan panjang yang begitu memikat hati karena indahnya pemandangan Pulau Waiheke, saya tiba di gerbang masuk kawasan Connells Bay Sculpture Park (CBSP) dan langsung disambut oleh pemiliknya yaitu Pak John Gow. Dari pintu gerbang pun kami harus masuk ke dalam lagi menyusuri bebukitan dengan menumpang mobil pribadi Pak John. Sedikit latar belakang Pak John, beliau ini adalah pensiunan akuntan yang sangat suka dan dekat dengan dunia kesenian. Beliau selama puluhan tahun bekerja sebagai akuntan untuk sebuah program teatrikal kelas dunia, seperti Cats, Les Misserables, atau bahkan Phantom of The Opera.


Baca juga : Asiknya Jalan-jalan di Auckland New Zealand


Setibanya di kawasan CBSP, Pak John langung bertanya pada saya, apakah saya fit untuk berjalan kaki keliling jalan-jalan ke atas perbukitan? Waduh pertanyaan sulit nih, rasanya malu kalau saya jawab tidak sanggup kan? mengingat yang mengajak saya ini Pak John – usianya bisa jadi sudah 70 tahunan lebih. Akhirnya kami berdua berjalan-jalan menyusuri padang rumput satu ke padang rumput yang lain, daru bukit yang satu ke bukit yang lain. Pak John senantiasa menjelaskan satu persatu karya instalasi yang dipajang di berbagai lokasi bukit. Semua karya patung (sculpture) di sini adalah buah karya seniman berdarah “kiwi” atau New Zealand. Mereka diundang khusus hanya untuk berkarya di kawasan “park” yang luasnya entah berapa ini. Karya-karya seni instalasinya bagus-bagus, saya suka. Terlebih karya-karya dengan konsep kinetik atau yang bisa bergerak-gerak karena angin.

Tak terasa, kami berjalan hampir satu jam lebih kayaknya. Pak John tetap terlihat bugar sementara saya ngos-ngosan. Saya pun diajak ke sisi pantai untuk melihat rumah beliau, rumah villa yang disewakan untuk para tamu, juga rumah singgah bagi para seniman jika datang kesitu untuk membuat karya. Saya pun bertemu dan dikenalkan ke isteri beliau yaitu Ibu Jo. Beliau dulunya seorang perawat. Nah.. saat saya bertemu dengan Ibu Jo, ada cerita unik…

Jadi saat saya dan Pak John berjalan-jalan ke atas bukit, di salah satu karya ada sebuah seni instalasi dengan latar belakang alunan musik yang terdengar sayup-sayup. Di dalam katalog tertulis bahwa alunan tersebut adalah musik Jepang. Saat saya baca bersamaan saya simak suara musik tersebut, saya koq yakin kalau musik tersebut adalah alunan gamelan Jawa. Lalu seketika saya cek ke Pak John tentang itu, beliau kaget dan berusaha minta saya menyimak lagi musik tadi untuk meyakininya kembali. Saya bilang, saya yakin sekali Pak John. Nah, ternyata yang mengumpukan data kelengkapan untuk semua karya di CBSP ini adalah Ibu Jo – isteri Pak John tadi. Lalu Pak John bilang ke isterinya, menurut Motulz itu suara musik Jawa bukan Jepang. Ibu Jo kaget, lalu seperti Pak John bertanya ke saya untuk meyakini. Akhirnya mereka berdua tertawa dan berterimakasih ke saya, mereka bilang akan segera merevisi materi katalognya. Mereka bilang kalau mereka pun sebetulnya tidak tahu info musik tersebut, mereka hanya menduga-duga yang mereka rasa musik itu adalah musik Jepang. Jadi, paling tidak saya punya kontribusi sedikiiiit.. sekali untuk Connells Bay Sculpture Park ya? lumayan kan.. hahaha..

Berkunjung ke galeri adalah sebuah keasikan tersendiri, terlebih galeri tersebut ada di kota atau negara lain. Pastinya akan menjadi pengalaman kreatif yang seru. Nah, pengalaman dari kunjungan ke galeri yang satu ini jelas memberikan cerita dan pengalaman kreatif yang lebih dari biasanya. Saya sangat senang sekali, terlebih pasangan Pak John dan Ibu Jo Gow begitu ramah, humble, dan baik sekali. Entah ya.. semoga saya mendapatkan kembali kesempatan berkunjung ke tempat ini, karena saya baru sadar kalau saya tidak sempat berfoto bareng bersama Pak John dan Ibu Jo Gow..

Semoga!


 

Advertisements

Hits: 208

Leave a Reply