Mengintip Suasana Bagian Dalam Istana Kepresidenan Yogyakarta

Istana Kepresiden Yogyakarta, yang mungkin lebih akrab dan dikenal masyarakat dengan nama Gedung Agung. Ya betul, ini adalah istana kepresidenan yang berada persis di seberang Benteng Vrederburg dan Titik Nol D.I. Yogyakarta. Pernah tahu seperti apa bagian dalamnya? 

Saya memang sering berkunjung ke Yogyakarta dalam rangka membuat sketching yang rencananya akan saya bukukan bersama Mas Wisnu – Pemred Kompas.com. Maka saat saya berada di Yogyakarta, Mas Wisnu mengabari saya kalau ia ingin berkunjung ke Istana Kepresidenan Yogyakarta, tentu saya tertarik sekali untuk bisa ikut. Maka bergegaslah kami kesana dengan mobil sewaan.

Untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan Yogyakarta, kami harus parkir di Jalan Reksobayan yang letaknya persis di pinggir istana kalau kita mau mutar balik tembus ke Malioboro depan Pasar Beringharjo. Dari situ, seperti umumnya masuk ke area ring-1 kami harus melalui prosedur keamanan dan protokoler, ditemui oleh tentara, tukar ID, dan menunggu di ruang tunggu. Saat itu Mas Wisnu bertemu dengan teman lamanya yang dulu pernah bertugas di Istana Negara Jakarta saat era Presiden SBY. Setelah mengobrol ngalor-ngidul kami diajaklah tur keliling Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Bangunan istana ini cukup tua, bagi saya yang suka sketching tentu bangunan istana ini keren sekali. Saya yakin teman-teman arsitek yang gemar dengan referensi bangunan kolonial atau heritage pun akan suka dengan bentukan bangunan yang ada di komplek istana ini. Memang ada juga beberapa bangunan baru dan juga bangunan renovasi, akan tetapi masuk ke kawasan istana yang menyimpan banyak kisah orang penting di negeri ini tentu menjadi pengalaman menarik tersendiri bagi saya.

Di bagian dalam komplek istana ini (tak begitu tampak dari luar) ternyata ada taman yang cukup luas. Dengan berbagai jenis tanaman hingga koleksi patung-patung jaman Presiden Sukarno (sekitar tahun 1946). Ada banyak sekali patung dari mulai yang figuratif hingga ornamental yang sering kita lihat di candi-candi Buddha. Nah salah satu patung dengan ornamen Buddha yang bisa terlihat dari luar adalah patung berbentuk silinder tinggi yang oleh warga disebut Patung Lilin. Nanti akan saya ceritakan lebih jauh tentang Patung Lilin ini.

Masih di taman dalam, kita bisa melihat ada sebuah kolam jadul yang nampaknya sudah difungsikan sebagai kolam saja. Dulu katanya masih difungsikan sebagai kolam renang zaman Ibu Megawati kecil. Ya betul.. Ibu Megawati kecil tumbuh dan besar di istana ini. Ruangan yang jadi kamar bayinya pun masih terjaga dan terawat baik, lokasinya menghadap taman tapi agak ke depan. Sementara di sisi lebih ke dalam berdiri sebuah mesjid yang digunakan oleh pegawai istana.

Di bagian dalam bangunan, terdapat banyak ruangan-ruangan. Mulai dari ruang tamu depan, lorong ke ruang tengah dan kamar-kamar. Mulai dari kamar untuk keluarga presiden, kamar tamu, hingga kamar rias lho (seperti salon). Di bagian tengah ada ruangan besar seperti balai pertemuan. Saya curiga balai pertemuan ini dulunya semacam teras tapi direnovasi dengan dibangun dinding-dinding dipinggirnya agar lebih tertutup dan bisa dipasang AC.

Nah kembali ke halaman depan istana, saat saya berdiri menghadap jalan yang ada di depan (Benteng Vrederburg) tak terasa keramaian di jalan, tetap terdengar sepi hanya suara sepoi-sepoin angin. Jadi suasana teras istana ini begitu tenang dan khidmat sekali. OK kembali ke Patung Lilin tadi, sebetulnya patung ini bukan representasi dari sebuah lilin. Patung ini pun sebetulnya adalah arca tugu. Jadi lebih tepat disebut tugu dibanding patung. Bentuk bagian bawahnya seperti ornamen kelopak bunga teratai yang sering digunakan pada ornamen patung Buddha. Nama arca tugu ini adalah Dagoda, entah apa artinya.

Yah! begitulah kira-kira… sekilas suasana pemandangan sisi dalam Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Berkesempatan masuk ke dalam Istana Kepresidenan Yogyakarta ini merupakan sebuah pengalaman dan cerita tersendiri bagi saya. Saya senang travel dan senang berkunjung ke tempat-tempat menarik dan unik, tapi bisa masuk ke tempat yang tidak umum atau butuh akses khusus tentunya menjadi daya tarik dan ketertarikan tersendiri. Saya pun yakin beberapa dari kalian pernah punya cerita berkunjung ke tempat-tempat yang membutuhkan akses khusus alias tidak umum bukan? Nah.. coba silakan di share 🙂


 

Advertisements

Hits: 891

Leave a Reply