Hari Selasa Wage: Malioboro Bersih dan Tanpa PKL, Kenapa Selasa Wage?

Jalan Malioboro Yogyakarta, jalan panjang yang punya banyak sejarah dan cerita. Mulai sejak zaman kolonial hingga zaman millenial. Selalu menjadi pusat keramaian masyarakat, jantung pemerintahan, sekaligus pusat perdagangan kota. Bisa terbayang dengan sibuk dan hiruk-pikuknya jalan ini, lantas kapan bisa istirahanya ya?

Minggu pagi, saya dan teman-teman Sketchwalker sedang asik menggambar di sepanjang Jalan Malioboro. Pagi itu kebetulan adalah car free day atau hari bebas kendaraan. Makin penuhlah kerumunan manusia di hampir semua ruas jalan. Baik yang hanya jalan-jalan, bersepeda, olah-raga, hingga acara-acara kegiatan lainnya. Saking penuhnya akhirnya saya men-sketch kegiatan manusianya saja padahal ingin sekali menggambar bangunan-bangunannya.

Lalu salah seorang panitia 101 Travel Sketch bilang kepada saya, “wah.. kalau ingin menikmati Jalan Malioboro yang bersih, rapih, dan tertata, datangnya pas Hari Selasa Wage”. Kebetulan saya memang sudah berencana extend di Jogja hingga Hari Rabu, hanya saja saya tidak tahu apakah Hari Selasa lusa itu adalah Wage atau Pahing atau yang lain? Ternyata Hari Selasa itu adalah pas sekali Hari Selasa Wage. Jadi beruntunglah saya bisa menikmati suasana Jalan Malioboro ya unik dari biasanya.

Acara 101 Travel Sketch

Jalan Malioboro – seperti yang saya sebut di awal, sungguh menjadi urat nadi Kota Istimewa ini. Jalan ini sudah ada sejak zaman Sultan Hamengkubuwono pertama! Yaitu sekitar tahun 1700-an. Jalan ini dibuat tidak hanya sebagai akses jalan tapi juga sebagai simbol garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi – Keraton – dan Pantai Selatan. Garis lurus jalan sepanjang 2 km ini bisa mudah kita temukan penandanya mulai dari Tugu Yogyakarta di sisi Utara hingga lurus ke kawasan Titik Nol di arah Selatan, dekat Benteng Vredeburg. Memang nilai-nilai budaya dan kepercayaan Jawa masih sangat kuat terjaga di kalangan Keraton. Hingga pemilihan lokasi dan titik-titik penting Keraton pun dipercaya dipilih berdasarkan perhitungan dan pertimbangan primbon Jawa.

Saat ini, Jalan Malioboro tetap menjadi urat nadi dari denyut kehidupan masyarakat Yogyakarta termasuk para pelancong baik dalam dan luar negeri. Denyut kehidupan dan perdagangan ini terasa tak henti-hentinya. Saking penuh sesak dan padatnya, akhirnya arus kendaraan yang melintasi Jalan Malioboro pun sekitar awal tahun 1980-an diubah menjadi searah. Belum selesai sampai disitu, upaya mengurangi kemacetan pun masih dilakukan dengan menutup perlintasan kereta persis di depan jalan masuk Stasiun Kereta Api Yogyakarta. Akhirnya kendaran yang mau melintas pun wajib memutar dan melewati kolong jembatan rel. Walau demikian tetap saja, kepadatan kendaraan yang melintas nampaknya sudah susah terelakkan lagi. Barisan becak dan delman yang mangkal di tepian sepanjang jalan ini pun tentu mempunyai kontribusi atas sesaknya jalan yang namanya diambil dari kata Malyabhara yang artinya kalungan bunga dari sebuah jalan lurus menuju istana.

Kondisi kepadatan dan kemacetan ini membuat Jalan Malioboro terasa menyesakkan, dari sinilah maka kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan saran agar setiap Hari Selasa Wage, mbok yao sepanjang Jalan Malioboro sebaiknya dibersih-rapihkan. Ternyata ide ini disambut semarak oleh warga Jogja. Para PKL pun cuti berjualan, begitu pun para pengendara becak dan delman, sehingga pemandangan sepanjang jalan mulai dari Tugu hingga Titik Nol menjadi lowong, lega, bersih, dan rapih. Pemandangan trotoar tanpa PKL, tepian tanpa becak dan delman, sungguh memberikan kesan tersendiri baik bagi wisatawan terlebih lagi warga Yogyakarta yang tiap hari lewat jalan ini. Lantas kenapa dipilih Hari Selasa Wage?

Dari informasi dan data yang saya temukan, Hari Selasa Wage nampaknya menjadi hari yang khusus bagi keluarga Keraton Yogyakarta. Hari Selasa Wage adalah hari weton kelahiran Sri Sultan Hamengkubuwono X. Di Hari Selasa Wage pula lah Sri Sultan HB X ini diangkat menjadi raja. Maka pertimbangan pemilihan Hari Selasa Wage sebagai hari reresik atau bersih-bersih ini berkaitan dengan hari baik dan hari lahir sang Sri Sultan (pasaran). Harapannya adalah Hari Selasa Wage ini menjadi sebuah kesempatan baik yang memberikan jeda bagi Jalan Malioboro agar bisa “bernafas” sejenak. Begitu kira-kira pesan sang raja.

Nah, bagi kalian yang ingin menikmati suasana berbeda dan unik dari Jalan Malioboro, maka atur waktu liburanmu dan sempatkan mampir ke Jalan Malioboro pas di Hari Selasa Wage. Temukan sensasinya, buatlah foto-foto dan video-video, jangan lupa juga ceritakan kisahnya di media sosial. Untuk yang ingin melihat video suasana “lowong” Jalan Malioboro di Selasa Wage, bisa lihat vlog saya di bawah ini:


Terima kasih @ndorokakung dan @indahrini211 atas infonya

Advertisements

Hits: 653

Leave a Reply