Cerita Mencekam Sungai Mahakam Di Kutai Barat Kalimantan

Mendengar nama kota Kutai, yang teringat adalah Kutai Kertanegara, ternyata ini berbeda. Ini adalah sebuah provinsi pemekaran baru. Butuh 4o menit terbang dengan pesawat Skyvan dari Balikpapan. Saya dan Bang @rahung diajak Pak William Wongso (@williamwwongso) dan Mbak Santhi Serad (@santhiserad) dari ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia). Salah satu misi perjalanan ini adalah berkunjung ke desa-desa tepi Sungai Mahakam.

Menyusuri Sungai Mahakam sungguhlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Kami berangkat pagi-pagi dari salah satu pelabuhan motor boat di Sendawar. Kami menggunakan motor boat milik pemda di sana. Namun baru sekitar 20 menit perjalanan perahu motor kami mogok. Satu kali diperbaiki – dua kali diperbaiki – hingga tiga kali, kapten perahu meminta kami berempat “kenalan” dengan Sungai Mahakam. Huh? Bagaimana cara kenalannya? Harus berenangkah?

Ternyata kita berempat hanya diminta mencuci muka dengan air sungai, ah tidak terlalu sulit syaratnya. Maka masing-masing dari kami meraup air Sungai Mahakam dan membasuh muka kami, termasuk Mbak Santhi Serad dan Om William Wongso. Apa yang terjadi? Sekali start.. mesih perahu motor tadi nyala dan tidak mati-mati sampai kita kembali ke Sendawar.. mistik? Entahlah, yang penting kami yakin bahwa kami tidak ingin berbuat jahat dan perahu motor kami lancar sampai tujuan.

Kehidupan di desa-desa tepian Sungai Mahakam ini unik sekali. Semua desa berada di atas sungai. Rumah panggung mereka menggunakan kayu yang cukup mahal jika harus dibeli di pulau Jawa dan Bali, namanya kayu Ulin. Kayu ini kokoh dan kuat sekali. Makin sering terendam air maka makin kokoh, tidak heran sering disebut sebagai Kayu Besi. Semua kehidupan desa terhubung lewat sungai yang lebarnya nyaris sebesar lebar ruas Jl. Jend. Sudirman Jakarta. Sangat dalam hingga bisa dilalui kapal-kapal barang yang besar. Pemandangan yang mengagetkan juga adalah banyaknya pelabuhan dadakan yang digunakan sebagai pangakalan angkutan batu-bara. Sungguh sebuah pemandangan yang beragam sekali. Ini semua baru bahagian kecil dari panjangnya Sungai Mahakam, yaitu bahagian yang melalui provinsi Kutai Barat. Semoga kelak berkesempatan menyusuri sungai-sungai besar lainnya di Kalimantan.

  • Mencuci muka air Sungai Mahakam dipercaya membuat kita akan rindu untuk kembali lagi ke Kutai Barat.
  • Saat menyusuri Sungai Mahakam, kenakan topi lebar dan bawa persediaan air minum yang banyak. Lokasi di sini persis di bawah garis khatulistiwa, sehingga panasnya minta ampun.
  • Di beberapa lokasi tepian Sungai Mahakam terdapat buah khas bernama Lakump, jangan dipegang apalagi dipencet hingga pecah, karena akan menimbulkan gatal-gatal. Akan tetapi untuk buat Lakump yang sudah agak matang, bisa dibuat jus dengan rasa seperti jus Markisa
  • Kabar terakhir, bandara di Ibu Kota Kutai Barat Sendawar sudah diperbaiki. Pesawat yang datang pun sudah bukan pesawat kecil jenis Skyvan lagi.
  • Ingin tahu hebat dan mahalnya Kayu Ulin atau Kayu Besi? cek via Motzter.com

(Semua foto milik @motulz)

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Mencekam Sungai Mahakam Di Kutai Barat Kalimantan

Leave a Reply