Melihat Pemetik Teh di Gunung Dempo Pagar Alam

Nama Pagar Alam memang belum terlalu dikenal banyak pelancong walau berada di provisi Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Palembang dan Bengkulu. Padahal keindahan dan sejuknya alam di sana menjadikan daerah ini layak jadi tujuan liburan kita. Hanya saja kisah saya menuju Pagar Alam cukup mendebarkan, bagaimana?

Perjalanan saya dari Bengkulu menuju Pagar Alam terpaksa dilakukan malam hari. Saya dan @Raesaka harus mengambil gambar video di sana saat matahari terbit. Hampir banyak mobil sewaan menolak perjalanan malam hari menuju Pagar Alam karena rawannya perampokan di jalan yang sangat gelap. Metode perampokkannya berbeda dengan Bajing Luncat – yaitu naik loncat ke atap mobil, metode mereka adalah dengan memasang batang pohon besar memalang jalan. Akhirnya kami menyewa 2 mobil polisi untuk mengawal di depan dan belakang mobil kami selama perjalanan yang cukup membuat mata kami tetap terjaga sepanjang jalan.

Kepergian kami ke Pagar Alam merupakan serangkaian tugas video shooting untuk meliput kesibukan para pekerja perkebunan milik PTPN VII di Lampung. Salah satunya adalah perkebunan teh di Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Kami tiba di Pagar Alam sekitar pukul 2 dini hari. Suasana di sana gelap sekali, hanya nampak bayang-bayang hamparan kebun teh yang luas. Kami menginap di pondok-pondok tepat dikelilingi perkebunan teh. Suasananya dingin sekali, mirip seperti di Lembang Bandung hanya lebih sepi. Tidak banyak lampu-lampu yang meyala, saya berpikir bahwa tidak ada perkotaan di sekitar situ.

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan @Raesaka mencoba mengambil gambar sunrise di sekitar penginapan. Ketika membuka pintu menuju balkon, angin sejuk menyelusup masuk ke ruangan kamar penginapan. Dingin sekali, seperti kita membuka pintu kulkas. Matahari memang tidak tampak, mungkin karena ketinggian Pagar Alam sekitar 1000 meter di atas permukaan laut, lebih tinggi dikit dari Bandung (700m) di kaki Gunung Dempo yang tingginya sekitar 3000m di atas permukaan laut. Wajar saja jika mencari matahari terbit agak susah sekali karena tertutup kabut.

Ketika hari makin terang, mulailah kita bisa menikmati hamparan hijau dan harumnya perkebunan teh Gunung Dempo. Hamparan ini luas sekali, melekuk-lekuk di punggung bukit sepanjang kaki Gunung Dempo. Kesunyian perkampungan pun membuat suasana hening di situ menjadi lebih khidmat. Sepoi angin sejuk terus mengisi udara di sekitar kita.

Para pekerja perkebunan pun mulai tampak. Mereka berjalan bersama berkumpul di antara gumulan pepohonan teh. Para pekerja pemetik teh ini tidak semuanya ibu-ibu ada juga yang masih gadis. Pekerjaan memetik teh ini nampaknya sudah dijalani secara turun temurun. Hal ini terlihat dari kejelian mata mereka memilah daun teh yang bagus dan lincahnya tangan mereka dalam memetiknya.

Selain para buruh wanita pemetik teh, ada juga pemetik teh pria. Mereka adalah pemetik daun teh dengan metoda lebih moderen, yaitu dengan alat pemetik. Alat ini dioperasikan oleh dua pekerja yang menggiring alat tersebut di atas permukaan pepohonan teh. Kedua pekerja berjalan menyusuri celah kecil di antara pepohonan teh. Jika diperhatikan kontur dan bentuk alur-alur celah perkebunan teh di Gunung Dempo ini berbeda dengan yang sering kita lihat di kebun teh Gunung Mas di kawasan Puncak, Bogor. Hal ini dikarenakan kebutuhan para pemetik teh yang menggunakan mesin tadi. Maka bisa diduga bahwa di kawasan kebun teh Puncak Pass tidak ada yang menggunakan mesin pemetik teh. Bisa jadi?

Semua teh dikumpulkan di sebuah pondokan tepi perkebunan. Selesai dimasukan ke dalam karung plastik, semua teh langsung diolah di pabrik pengolahan teh Gunung Dempo milik PTPN VII, yang lokasinya lebih menanjak lagi dan tentunya lebih dingin.
Berlibur ke Bengkulu atau Palembang tentu menarik. Akan tetapi coba sekali waktu mampir ke Pagar Alam untuk merasakan hening dan sejuknya udara kaki Gunung Dempo. Apalagi mulai Februari 2013 kota di provinsi Sumatera Selatan ini sudah bisa diakses lewat udara. Pemkot baru saja meresmikan lapangan terbang Atung Bungsu.

(Foto-foto milik @motulz & @Raesaka)

Advertisements

Leave a Reply