Sekilas Kesan Pagelaran Seni di Desa Banaran Kulon Progo

Temanku seorang fotografer asal Jogja – namanya Mas Jambul, memberitahu bahwa ada sebuah pagelaran budaya yang diadakan di sebuah desa di kabupaten Kulon Progo Jogjakarta. Ini menarik karena saya memang suka melihat acara-acara pagelaran budaya, apalagi yang masih dilakukan di pedesaan. Saya suka melihat human interaction masyarakat desanya, karena sangat khas Indonesia.

Nama desanya adalah Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo. Lokasinya lumayan jauh dari Jogja, sekitar jarak dari Jakarta ke Bogor atau kurang lebih satu jam perjalanan mobil. Namun saya selalu suka perjalanan di pinggiran Jogja karena bisa menikmati pemandangan sawahnya. Kebetulan ini musim padi menguning. Jadi sejauh mata memandang sawah, hamparan padi menguning mengisi semua lahan sawah. Indah sekali.

Acara pagelaran budaya ini diadakan di sebuah lapangan bola desa. Pas ditepi jalan yang hanya cukup dua mobil namun mulus sepanjang jalannya. Beberapa kali saya menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan sawah sambil berfoto tentunya. Sayangnya saya baru mendapatkan kabar bahwa tidak jauh dari lokasi desa tersebut adalah pantai Laut Selatan. Duh! saya terlambat tahu dan tidak sempat melihat pantainya. Lantas saya baru berfikir bahwa Desa Banaran ini cukup unik, karena ada persawahan yang subur juga ada pantai tempat nelayan melaut.

Saya pun baru sadar jangan-jangan ada kaitannya antara acara perhelatan budaya ini dengan lokasi desa, karena tema pagelaran budaya ini adalah “Menggali Budaya Agraris & Maritim Sebagai Identifikasi Jati Diri Bangsa Indonesia”. Jadi ada padi sebagai representasi agraris dan ada pantai sebagai representasi maritim. Terdengar cukup serius ya? Maklum lah acara ini dimotori oleh sebuah kelompok spiritual bernama Kadangkadeyan Sabdalangit.  Kelompok pembina kebudayaan ini konon sering disalah artikan sebagai kelompok spiritual yang sesat dan tidak baik :)) Haduh! Padahal mereka bekerja sama dengan mengundang Bupati Kulon Progo Pak Hasto Wardoyo dan Ketua APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yaitu Bapak Ir. H. Isran Noor M.Si. sebagai penggagasnya. Sebagai Ketua APKASI, Pak Isran melihat langsung ke masyarakat kabupaten dan bersama Bupati Kulon Progo, untuk melakukan program menarik nih, yaitu: “bela kulon progo beli kulon progo”, atau memajukan masyarakatnya dengan membeli hasil bumi masyarakat sendiri.

Acara dimulai sejak pagi hari, namun saya baru tiba sekitar jam 11 siang. Cuaca cerah dan panas sekali, namun tidak menghentikan antusias warga desa dalam menikmati pagelaran budaya ini. Berduyun-duyun masyarakat berdatangan dari berbagai desa tetangga. Tidak cuma warga lokal, nampak banyak juga fotografer yang datang dengan menenteng kamera yang lumayan serius, yang ternyata ada kontes foto juga! Yang misi dari lomba ini adalah menjaring aspirasi daerah untuk membangun Indonesia.

Akhirnya saya menikmati suasana keriaan warga desa. Sungguh sebuah perhelatan yang menurut saya harus sering diadakan atas biaya pemerintah guna melestarikan aktivitas dan kegiatan budaya di tingkat pedesaan. Dalam perhelatan ini, ada banyak sekali terjalin transaksi ekonomi tentunya. Baik dari dana di kepanitiaan, penjual makanan, mainan anak-anak, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang akan diselenggaran di malam harinya. Sebagai ketua APKASI, semoga Pak Isran Noor tidak bosan-bosan mengadakan acara-acara budaya di wilayah kabupaten lainnya.

(Foto-foto milik @motulz)

 

Advertisements

6 thoughts on “Sekilas Kesan Pagelaran Seni di Desa Banaran Kulon Progo

  1. kapan lagi ada pemimpin yang mau turun langsung bertemu rakyat, peduli sama kebudayaan, tanpa bawa bawa media buat pamerin aktifitasnya itu??? salut pak!!!

  2. Makin banyak pemimpin yg peduli dengan pelestarian kebudayaan daerah.. makin bagus dan harus didukung ya 😀

Leave a Reply to diana joyce lin Cancel reply