Ada Adzan di Walesi Wamena

Papua memang dikenal sebagai pulau besar yang perkembangan agamanya dibawa oleh para misionaris sejak lama. Tapi siapa yang sangka ternyata tidak sedikit umat muslim di Papua. Kali ini saya mendapat mandat musti berkunjung ke sebuah kota yang – mungkin – sering menjadi tempat shooting di wilayah Papua, ya.. kota Wamena.

Wamena Papua, adalah sebuah tempat yang selalu menjadi impian banyak pelancong dalam dan luar negeri. Letaknya hampir mencapai 2000 meter dari permukaan laut membuat kota ini menjadi sejuk. Sebagai sebuah kota yang dikelilingi pegunungan besar maka akses menuju Wamena sangatlah sulit. Satu-satunya pintu masuk kota Wamena hanyalah jalur udara. Namun kesulitan akses ini tidak membuat Wamena menjadi tertutup dengan kehadiran budaya atau agama lain.

Salah satu yang menjadi unik adalah sebuah daerah bernama Walesi. Sebuah desa yang berada sekitar 6 km ke arah Selatan pegunungan Wamena. Di Desa Walesi ini jelas lebih sejuk dibandingkan di kota Wamena sendiri. Wilayah yang berbukit-bukit ini membuat pemandangan jalan menuju Walesi sungguh sangat indah. Dalam perjalanannya kita akan menemukan sungai besar yang penuh dengan bebatuan besar. Batu-batu itu dijadikan pagar batu oleh warga yang bisa terlihat melintang jauh dibukit-bukit yang berkabut. Sungguh sebuah pemandangan yang indah, bagai di daratan Skotlandia.

Hal yang menarik dari Desa Walesi ini adalah warganya yang mayoritas beragama muslim. Mereka adalah warga asli Papua yang berakulturasi dengan pendatang yang beragama muslim. Sejarah agama Islam masuk ke Wamena memang sudah cukup lama sekali, diperkirakan sejak akhir tahun 1960an. Yaitu dibawa oleh para transmigran yang kebanyakan berasal dari wilayah Indonesia Timur lainnya seperti Makasar. Kehadiran para pendatang ini ternyata disikapi dengan baik dan berbaur. Kini di Desa Walesi sudah ada pesantren dan beberapa mesjid.

Kehadiran tentara penjaga pun memberikan kontribusi atas berkembangnya agama Islam di wilayah Wamena ini. Mereka selain menjaga wilayah hutan juga memberikan aktivitas pelatihan bagi warga desa. Yang akhirnya mereka pun berbaur secara keagamaan. Kini bukan cuma sekedar mesjid yang menghiasi wilayah di Desa Walesi ini, melainkan pesantren dan Islamic Center.

Tidak cuma itu, ada juga pusat kegiatan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang bernuansa Islam. Semua terlihat wajar, akan tetapi bagi kita pelancong yang jarang menemukan komunitas muslim di Papua, tentu akan menemukan pemandangan yang unik seperti ini. Tempat bermain anak-anak pun sesekali diisi dengan pembacaan Juz’ Ama dari sang guru. Sungguh sangat menarik.

Secara akulturasi budaya dan agama, Desa Walesi telah membuktikan bahwa perkembangan masyarakat Papua sudah mencapai sebuah keterbukaan yang mantap. Mereka hidup berdampingan dan saling mengisi saat bertemu di pasar.

Akan tetapi, hal yang menjadi ciri lain dari Desa Walesi ini adalah, bahwa desa ini secara keseluruhan sudah tidak lagi terlihat sebagai sebuah desa warga Papua. Hal ini dikarenakan bangunan-bangunan di sana sudah dibangun dengan teknik konstruksi tanah Jawa. Hanya ornamen khas Papua yang sesekali menghiasi bangunan atau gapura pintu masuk menuju desa. Selebihnya, desa ini nampak sekali dibangun atas bantuan dan kerjasama dengan para tentara (ABRI masuk desa). Jelaslah apa yang dikatakan banyak pelancong nusantara, bahwa Papua memang selalu memberikan kejutan-kejutan atas wilayahnya. Baik wilayah alam, pemandangan, budaya, suku, bahkan agama. Desa Walesi di Wamena salah satunya.

(Foto-foto milik @motulz)

Advertisements

Leave a Reply