Jalan Peneleh Surabaya, Yang Tidak Sepele

Plesir ke Surabaya itu biasa saja. Kota yang telah lama menjadi tujuan wisata dengan sebutan Kota Pahlawan. Sudah barang tentu banyak ditemukan bangunan bergaya arsitektur dutch-indies yang tersebar ke seluruh Kota Surabaya. Bangunan gaya kolonial ini tidak saja ditemukan di daerah protokol melainkan hingga masuk ke dalam gang-gang sempit. Salah satu lokasi gang sempit yang masih menyimpan cerita menarik adalah Gang Peneleh.

Nama Jalan Peneleh punya kisah tersendiri bagi sejarah bangsa Indonesia. Karena di gang tersebut pernah ada dua tokoh besar bangsa Indonesia yang kelak akan banyak memberikan perubahan signifikan, salah satunya adalah gagasan untuk melahirkan negara Indonesia. Dalam kunjungan saya ke Surabaya bersama teman-teman untuk menonton konser musik SoundrenAline, akhirnya malah seru dengan cerita sejarah Jalan Peneleh ini. Sejarah seperti apa?

Sebuah gagasan besar yang lahir di sebuah rumah kecil bergaya arsitek Cina, persis beberapa meter dari muka Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya. Rumah ini milik cendikiawan muslim pada masa itu yaitu Pak HOS Tjokroaminoto. Di rumah inilah Sukarno muda pernah kos untuk melanjutkan sekolah menengahnya di Surabaya. Sukarno tinggal di rumah ini atas rujukkan ayahnya di Mojokerto. Siapa sangka jika akhirnya di rumah ini lah Sukarno muda banyak belajar tentang konsep sebuah negara.

Nama Peneleh sendiri diambil dari nama seorang putra Wisnu Wardhana, yaitu Pangeran Pinilih. Wisnu Wardhana adalah pemimpin daerah tersebut yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singosari. Jalan Peneleh memang bukan sekedar gang kecil, keberadaan gang ini memang sudah menjadi daerah sibuk sejak lama. Keramaian Jalan Peneleh ini tidak lepas dari aktivitas sungai Kalimas, yang lokasinya berada di muka Gang Peneleh. Pada era kolonial Belanda, sungai Kalimas aktif digunakan warga Surabaya sebagai jalur transportasi bagi para pedagang buah-buahan.

Lokasi Jalan Peneleh tidak sukar ditemukan, karena lokasinya cukup berada di tengah kota. Siapa yang sangka jika daerah padat penghuni Peneleh ini merupakan wilayah yang sudah hidup sejak era kolonial. Tidak jauh dari Gang Peneleh VII tadi, anda bisa berkunjung ke sebuah bangunan tua yang dulunya digunakan sebagai pusat pembangkit listrik milik Belanda, namanya ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Eletriciteits Maatschappij) yang kemudian dikelola oleh PLN.

Jika anda berada di Surabaya dan ingin berkunjung ke daerah Peneleh ini, anda bisa menggunakan transportasi umum ke arah Jembatan Merah, dilanjutkan dengan naik Angkutan Kota arah Keputih, nanti angkot tersebut akan melewati Jembatan Peneleh. Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa memarkirkan mobil di tepian sungai Peneleh lantas berjalan kaki mblusukan dari gang satu ke gang lain.

(Semua foto milik @motulz)

 

Advertisements

Leave a Reply