Menjelajah Kawah Bromo Dengan Motor

Sore itu, hari pertamaku tiba di Kecamatan Tosari Jawa Timur Saya langsung membuat rencana dadakan yang tidak perlu pikir panjang lagi, yaitu mengunjungi komplek Gunung Bromo. Sebuah komplek volcanoes yang sudah lama mencuri perhatian para vulcanologist dunia. Saya pun tidak mau ketinggalan untuk berkenalan dengannya.

Perjalanan menuju Tosari dari Surabaya memakan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan dengan mobil carteran. Langsung singgah di puskesmas kecamatan untuk bertemu dengan para relawan medis Pencerah Nusantara, pertanyaan pertama saya kepada mereka adalah: bagaimana saya bisa ke Bromo besok pagi? Ternyata para relawan @PencerahNusa (PN) ini cukup fasih dengan pertanyaan dan agenda tersebut, langsung saya dihubungkan dengan salah satu pegawai lab puskesmas Desa Wonokitri Kecamatan Tosari yang hobi menjadi tourist guide ke Bromo, namanya Mas Heri. Yang uniknya adalah, Mas Heri ini bukan menggunakan mobil jeep yang biasa digunakan banyak pelancong Bromo, melainkan motor! Jadi ini semacam saya menumpang ojek untuk menjelajah kawasan Gunung Bromo. Woohoo!

Menjelang Magrib, saya dan Mas Heri berpamitan dengan para relawan PN. Mas Heri janjian sama saya untuk bertemu di homestay saya jam 3 subuh. Saya langsung kebayang harus melawan dinginnya malam. Mas Heri menyarankan saya untuk sempatkan mandi air hangat, tapi jangan terlalu hangat, alias agak dingin supaya badan saya agak beradaptasi dengan dinginnya malam. Jam 3 subuh kami sudah siap! Baju dan celana sudah berlapis-lapis, termasuk kaus kaki dan sarung tangan. Penutup kepala (kupluk) juga syal yang menutup mulut saya.

Perjalanan dari Desa Telogosari ke Desa Wonokitri hanya memakan waktu sekitar 20 menit naik motor. Tak jauh dari situ langsung kami naik ke Desa Pananjakan dimana saya akan mengambil foto matahari terbit. Di lokasi Pananjakan ini lah hampir banyak semua foto dan video dengan sudut pandang atas Gunung Bromo diambil. Lokasinya enak dan asik, sangat terjaga dan warga sadar akan kehadiran tamu-tamu yang ingin mengabadikan matahari terbit ini. Tidak heran selain tempat parkir, warung-warung pun sudah siap jaga 24 jam di sana.

Usai dari Pananjakan, Mas Heri langsung mengajak saya ke salah satu spot ideal untuk foto, selain Pananjakan. Lokasinya hanya bisa dijangkau dengan motor tidak bisa dengan mobil. Mas Heri menyebutnya Bukit Cinta, ya betul dari lokasi Bukit Cinta ini saya mendapat angle yang lebih luas dari kawasan Bromo. Bedanya lokasi ini sepi karena memang bukan lokasi turis. Mungkin karena sepi ini lah maka banyak orang yang datang kesini untuk memadu cinta. Tak lama di Bukit Cinta, kami langsung meluncur ke kawasan gurun Bromo.

Gurun Bromo memang bagaikan padang pasir. Jika saya bisa gambarkan, di dalam kompleks Bromo ini kita bagaikan berada di tengah kawah yang berisi pasir. Hanya saja kawahnya tidak panas melainkan dingin sekali. Dingin dan berdebu, kami melintasi padang pasir Bromo dengan motor Mas Heri serasa membayangkan menjadi seorang Cyril Despres – Pemotor Rally Paris Dakkar. Menurut Mas Heri saat melintasi gurun dengan motor justru tidak boleh melaju pelan, karena ban depan bisa dengan mudah selip. Jadi sepanjang jalan di gurun itu kami melaju cukup kencang.

Memasuki daerah pandang rumput, adalah bagian yang paling menyenangkan buat saya. Sungguh indah dan menganggumkan. Sulit rasanya saya ceritakan di sini karena saya belum pernah menemukan kesamaan perasaan dengan lokasi-lokasi yang pernah saya kunjungi. Sejauh mata memandang hanya rumput dan semak belukar. Ditumbuhi bunga-bunga liar yang hidup di ekosistem sangat dingin. Tebing bebatuan di sebelah kiri dan perbukitan padang rumput di sebelah kanan saya. Padang rumput yang luas dan rapih sekali, bagaikan sebuah komplek padang golf atau desa Teletubies. Beberapa kali saya meminta ke Mas Heri untuk sejenak berhenti.. hanya berhenti dan terdiam saja. Tanpa melakukan apa-apa. Saya mencoba menikmati suara-suara di sana dan menikmati sejuknya udara yang saya hirup.

Saya janji akan kembali lagi ke sini..

Advertisements

Leave a Reply