Mengintip Cara Menghias Dinding Taj Mahal

Kemegahan Taj Mahal di India pastinya sudah menjadi perhatian banyak pelancong yang berkunjung ke sana. Sebuah mesjid yang dibangun dengan cita rasa seni dan arsitektur yang sangat tinggi. Hingga sering dari kita tidak sempat memperhatikan detil-detil dari bangunan marmer yang super megah ini. Saat saya berkesempatan mengunjungi Taj Mahal, saya tidak mau melepaskan kesempatan ini mengamati lebih dekat bagian-bagian detil dari Taj Mahal.

Taj Mahal dibangun sudah lama sekali – untuk detil sejarahnya silakan googling 😀 justeru yang saya mau ceritakan di sini adalah bagaimana ornamen-ornamen yang menghiasi seluruh dinding bangunan marmer ini dibuat. Untuk banyak pelancong yang sudah pernah datang ke sini, bisa jadi juga tidak terlalu memperhatikan keunikan dan kedahsyatan cara membuat ornamen-ornamen Taj Mahal. Kebetulan sekali saya memang diajak berkunjung ke sebuah rumah pengrajin ukiran marmer yang konon menurut pemilik rumah kerajinan ini, mereka yang bekerja adalah turunan langsung pekerja-pekerja yang ikut membangun dan menghias Taj Mahal! Berarti buyut-buyut mereka itu dulunya adalah pekerja pembuat ornamen dan perhiasaan bangunan Taj Mahal. Berarti jempol tangan buyut-buyut mereka dipotong??

YUP! Saya pernah dengar cerita itu, bahwa sang raja yaitu Shah Jehan tidak mau para pekerja yang sudah membangun Taj Mahal ini ikut membangun bangunan lain semegah Taj Mahal, sebagai jaminannya setelah Taj Mahal selesai dibangun, semua jempol tangan para pekerjanya dipotong! Uuugh!!

OK! bukan itu yang mau saya ceritakan.. tapi bagaimana bangunan yang sebesar dan semegah ini bisa dihias dengan ornamen marmer dengan cara diukir dan dipahat secara terampil dan apik sekali. Hampir seluruh bagian dinding Taj Mahal ini terbuat dari marmer. Marmer yang konon dibawa dari kota yang berjarak 60km dari Agra (lokasi Taj Mahal), artinya mereka membawa lempengan batu marmer yang besar-besar itu dengan gajah yang jaraknya hampir sama antara Bogor – Jakarta. Semua marmer yang digunakan sebagai dinding Taj Mahal ini dihias dengan ornamen yang dibuat dengan cara dipahat atau diukir juga dengan hiasan warna yang dikerjakan sangat-sangat njilimet (delicate). Kenapa njilimet? Karena tiap bagian ornamen yang akan diwarna, mereka menggunakan batu lain untuk warnanya. Batu-batu itu harus dipotong, dibentuk, dihaluskan dengan cara digerinda, lalu bagian marmer yang mau diwarna itu dicoak dengan paku tajam, yang kemudian bagian warna yang sudah halus tadi diselipkan ke bagian marmer yang coak tadi. Artinya mereka harus benar-benar yakin bahwa bagian batu warna yang digerinda tadi ukurannya harus pas dengan bagian marmer yang dicoak. Jika gagal? ya mereka harus bikin dari awal.

Jadi jika kita melihat hiasan warna-warni pada dinding Taj Mahal, warna itu bukan di cat melainkan diwarnai oleh serpihan batu! Batu-batu warna yang digunakan pun khas, bukan batu yang di cat lho. Melainkan batu yang aslinya sudah berwarna, misalnya safir, onix, dan seterusnya. Cara pengerjaannya pun masih terlihat sangat primitif, artinya tidak menggunakan motor listrik sebagai mesin gerinda-nya. Ketika saya tanya, jawaban mereka sederhana saja bahwa dengan alat gerinda manual ini mereka lebih mudah mengatur RPM (rotation per minutes) atau cepat – lambatnya putaran batu gerinda. Cara pengerjaan dan bentuk alat-alat yang digunakan pun katanya masih mengikuti cara yang digunakan para pakerja jaman dulu.

Sementara bagian dinding yang diukir, saya pikir tidak terlalu wah! Karena rasa-rasanya metode hiasan dengan mengukir batu marmer sudah dilakukan oleh bangsa Eropa. Hal ini nampak pada bangunan gereja atau karya-karya patung seniman Eropa. Hanya saja, bentuk ornamen ukiran yang terdapat di Taj Mahal ini sangat khas sebagai kesenian Islam yaitu berbentuk geometris atau simetris. Untuk figur hiasan, mereka pun tidak menggunakan figur manusia tapi hanya tanaman, daun, dan bunga. Hal ini yang menjadi ciri khas seni rupa Islam karena kekhawatiran mereka atas larangan rasul dalam menggambarkan figur manusia yang khawatir bisa disalah gunakan untuk disembah. Daripada mereka salah, maka mereka cenderung untuk menghindari menggambar figur manusia.

Sementara untuk seni arsitekturnya, Taj Mahal jelas menggunakan seni arsitektur Islam yang menggunakan konsep geometris dan simetris tadi. Yang lebih ajaibnya adalah mereka pun melakukan tipuan optik atau pandangan mata agar bentuk bangunan bisa terlihat lebih megah! Salah satu yang saya tahu adalah bagaimana menara-menara atau  minaret Taj Mahal yang sengaja dibuat miring sedikit hanya supaya jika kita melihat dari kejauhan maka menara-menara tersebut justru tampak rata tegak atau simetris dengan bangunan utama!! Cara ini dilakukan untuk menyiasati distorsi pada perspektif menara yang tinggi! Edan! :))

Akhirnya saya pun maklum bagaimana warga Agra India ini dengan tegas dan sigap menjaga bangunan super megah ini. Saat saya ke sini mereka masih paranoid dengan teroris yang akhirnya saya tidak boleh membawa kamera saat masuk ke dalam Taj Mahal, yaitu bagian makam raja Shan Jehan yang bersebelahan dengan makam isteri tercintanya Mumtaz Mahal. Lalu semua turis yang naik dan masuk ke Taj Mahal harus membuka sepatu atau membungkusnya, karena bagaimana pun bangunan Taj Mahal ini adalah mesjid. Yang lebih kerennya lagi, bahwa semua pengunjung Taj Mahal tidak bisa membawa mobil ke dalam komplek bangunan, kami hanya bisa parkir cukup jauh lalu mereka menyediakan bus listrik yang mondar-mandir membawa kami mendekat ke Taj Mahal, alasan mereka agar pembuangan asap karbon kendaraan bermotor tidak merusak kulit luar dan warna marmer Taj Mahal.

Tidak heran jika dengan sikap kepedulian menjaga bangunan heritage ini, warga Agra India sudah bisa dihidupi berturun-temurun dengan kedatangan turis-turis seluruh dunia yang rela mengucurkan uangnya demi melihat langsung dan merasakan excitement berada disebuah bangunan suci yang dibuat dengan rasa cinta yang mematikan dari seorang raja pada permaisurinya.

(Semua foto milik @motulz)

 

Advertisements

4 thoughts on “Mengintip Cara Menghias Dinding Taj Mahal

    • Iya mas.. sinting banget ya hihihi.. tapi kayaknya untuk jaman itu hal2 perbudakan sih lumrah ya. Rate atau harga sih ga mahal2 amat tapi gak murah juga. Ya mirip kayak kita di sini beli batik tulis di pasar atau ukiran2 gitu deh

Leave a Reply to Didut Cancel reply